Novel Laskar Pelangi Bagian 28 (Societeit de Limpai)


Novel Laskar Pelangi Bagian 28 (Societeit de Limpai)

MEREKA menyebut diri mereka Societeit de Limpai, sederhananya: Kelompok Limpai. Limpai adalah binatang legendaris jadi-jadian yang menakutkan dalam mitologi Belitong. Sebuah karakter fabel yang menarik karena beberapa cerita rakyat memberikan definisi yang berbeda bagi makhluk mitos ini. Orang-orang pesisir menganggapnya sebagai semacam peri yang hidup di gunung-gunung. Di Belitong bagian tengah ia dipercaya berbentuk binatang besar berwarna putih seperti gajah atau mammoth, Sebaliknya di utara ia adalah angin yang jika marah akan menumbangkan pohon-pohon dan merebahkan batang-batang padi.
Ada pula beberapa wilayah yang mengartikan-nya sebagai bogey yakni hantu hitam dan besar. Orang-orang muda semakin salah mengerti. Bagi mereka Limpai adalah urban legend maka ia bisa saja incubus yaitu setan yang menyaru sebagai pria tampan atau death omen yang dapat menyamar menjadi apa saja. Disebut salah mengerti karena sebenarnya akar cerita Limpai terkait dengan ajaran kuno turun-temurun di Belitong agar masyarakat tidak semena-mena memperlakukan hutan dan sumber- sumber air. Ajaran itu mengandung tenaga sugestif ketakutan terhadap kualat karena hutan dan sumber-sumber air dijaga oleh hantu Limpai. Namun, dewasa ini sebagian besar orang melihat wujud Limpai tak lebih dari kabut yang melayang-layang di dalam kepala yang bodoh, tipis iman, senang bergunjing, dan kurang kerjaan, itulah Limpai.

Societeit de Limpai merupakan organisasi rahasia bentukan orang-orang aneh dan aku adalah sekretaris organisasi yang unik ini. Societeit beroperasi diam-diam. la semacam organisasi tanpa bentuk. Tak diketahui kapan, di mana mereka biasa berkumpul, dan apa yang mereka bicarakan. Jika secara tak sengaja ada yang memergoki mereka, mereka segera mengalihkan pembicaraan, bahkan menganggap saling tak kenal satu sama lain. Tindak tanduknya demikian disamarkan bukan karena me-reka mengusung sebuah misi yang amat berbahaya, anarkis, komunis, atau melawan hukum, tapi lebih karena mereka menghindarkan diri dari ejekan khalayak karena kekonyolannya. Sebab Societeit adalah kumpulan manusia tak berguna yang memiliki kecintaan berlebihan pada dunia klenik dan mistik. Para peminat klenik dalam masyarakat kami selalu jadi bahan tertawaan. Mereka tidak populer karena barangkali tidak seperti pada budaya lain di tanah air, orang-orang Melayu khususnya di Belitong me-mang tidak terlalu meminati dunia perdukunan.

Maka Societeit de Limpai pada dasarnya tidakmendapat tempat di kampung kami.

Namun bagi para anggota Societeit, organisasi mereka adalah organisasi yang sangat serius. Anggotanya hanya sembilan orang dan untuk menjadi anggota syaratnya berat bukan main. Anggota paling senior saat ini berusia 57 tahun, pensiunan syah bandar, dan yang termuda adalah dua orang remaja berusia 16 tahun. Enam orang lainnya adalah seorang petugas teller di BRI cabang pembantu, seorang Tionghoa tukang sepuh emas, seorang pengangguran, seorang pemain organ tunggal, seorang mahasiswa teknik elektro drop out yang membuka sebuah bengkel sepeda, dan Mujis, si tukang semprot nyamuk. Anehnya ketua kelompok ini justru yang termuda itu. Ialah bapak pendiri organisasi yang disegani anggotanya karena pengetahuannya yang luas tentang dunia gelap, pevalienan, serta koleksinya yang lengkap tentang cerita kabar angin atau cerita konon kabarnya. la tak lain tak bukan adalah Mahar yang fenomenal. Sedangkan anak remaja satunya tentu saja Flo. Adapun aku hanya seorang sekretaris dan pembantu umum, maka tidak dihitung sebagai anggota kehormatan.

Aktivitas Societeit sangat padat. Mereka melakukan ekspedisi ke daerah-daerah angker, me-nyelidiki kejadian-kejadian mistik, berdiskusi dengan para spiritual di seantero Belitong, dan memetakan mitologi lokal, baik Folklor maupun urban legend dalam suatu mitografi yang menarik. Dalam banyak sisi dapat dianggap bahwa para anggota Societeit sesungguhnya adalah orang-orang pemberani yang sangat penasaran ingin membongkar rahasia feno-mena ganjil dan memiliki skeptisisme yang tak mau dikompromikan. Jika belum melihat dan merasakan sendiri, mereka tak 'kan percaya. Societeit dengan brilian telah mengadopsi sosok Limpai yang mistis sebagai metafora sehingga mereka bisa disebut orang-orang antusias, ilmuwan, orang gila, atau musyrikin tergantung sudut pandang setiap orang menilainya. Sama seperti perbedaan perspektif setiap orang dalam memaknai Limpai.

Dalam pembuktiannya terhadap fenomena pa-ranormal mereka sering menggunakan metode ilmiah sehingga mereka dapat juga disebut sebagai ilmuwan tentu saja ilmuwan dalam definisi mereka sendiri. Ke arah inilah Mahar telah berkembang, bukan ke arah pencapaian-pencapaian seni yang seharusnya menjadi rencana A baginya, dan dengan kehadiran Flo, kesia-siaan bakat itu semakin menjadi-jadi.

Dalam menjalankan tugas sintingnya mereka melengkapi diri dengan perangkat elektronik, misal-nya beragam alat perekam audio video, perangkat-perangkat sensor, dan berbagai jenis teropong. Di bawah supervisi mahasiswa elektro yang drop out itu mereka merakit sendiri detektor medan elektro magnet yang dapat membaca gelombang area observasi dalam kisaran 2 sampai 7 miligauss karena mereka yakin aktivitas kaum lelembut berada dalam kisaran tersebut. Mereka juga menciptakan sensor frekuensi yang dapat mengenali frekuensi sangat rendah sampai di bawah 60 hertz karena menurut akal sesat mereka dalam frekuensi itulah kaum setan alas sering berbicara. Selain semua elek-tronik yang canggih itu pada setiap ekspedisi mereka juga membekali diri dengan kemenyan, gaharu, jimat telur biawak, buntat, dan penangkal bala, serta seekor ayam kate kampung karena seekor ayam dianggap paling cepat tanggap kalau iblis mendekat.

Mereka secara rutin berkelana. Suatu ketika mereka memasuki Hutan Genting Apit, tempat paling angker di Belitong. Hutan ini menyimpan ribuan cerita seram dan yang paling menonjol adalah fenomena ectoplasmic mist yakni kabut yang bercengkerama sendiri dan secara alamiah atau  mungkin setaniah membentuk wujud-wujud tertentu seperti manusia, hewan, atau raksasa. Tak jarang bentuk-bentuk ini tertangkap kamera film biasa. Para pengendara yang melalui kawasan ini sangat disarankan untuk tidak melirik kaca spion karena hantu-hantu penghuni lembah ini biasa menumpang sebentar di jok belakang.

Di lembah ini mereka memasang alat-alat elektronik tadi di cabang-cabang pohon untuk mendeteksi gerakan, suara, dan bentuk-bentuk tak biasa lalu menganalisisnya. Kemudian Genting Apit menjadi semacam laboratorium alam bagi Societeit. Tempat yang selalu dihindari orang mereka kunjungi seumpama orang piknik ke pantai saja.

Tak ayal Societeit juga mendatangi kuburan-kuburan keramat, bermalam di lokasi-lokasi yang terkenal keseramannya, mengumpulkan cerita-cerita takhayul, dan mencari benda-benda magis pusaka warisan antah berantah. Mereka diam di tempat yang ditinggalkan orang karena takut, mereka justru menunggu makhluk-makhluk halus yang membuat orang lain terbirit-birit. Semakin lama Societeit semakin bergairah dengan aktivitas-nya meskipun di sisi lain masyarakat juga semakin mencemooh mereka. Mereka dianggap orang-orang aneh yang menghambur-hamburkan waktu untuk hal-hal tak bermanfaat.

Tak semua kegiatan Societeit tak berguna. Adakalanya pendekatan ilmiah mereka malah mampu mematahkan mitos. Misalnya dalam kasus api anggun di atas sebatang pohon jemang besar. Telah puluhan tahun berlangsung para pengendara sering ketakutan ketika melintasi sebuah tikungan menuju Manggar karena pada puncak sebuah pohon jemang besar persis di seberang tikungan itu sering tampak api berkobar-kobar. Jemang Hantu, demikian juluk-an tempat angker itu. Kejadian itu selalu tengah malam setelah turun hujan dan sudah menjadi cerita seram yang melegenda.

Sulit untuk mengatakan bahwa para pengen-dara telah salah lihat apalagi berbohong karena di antara mereka yang telah menyaksikan peman-dangan horor itu adalah Zaharudin bin Abu Bakar, ustad muda kampung kami yang pantang berdusta.

Maka Societeit turun tangan melakukan sema-cam riset. Setelah sepanjang sore turun hujan malamnya mereka mengendap-endap di sekitar jemang angker tadi untuk melakukan pengamatan. Tak lama setelah lewat tengah malam mereka memang menyaksikan api berkobar-kobar di puncak pohon itu namun pada saat itu pula mengerti jawabannya. Mereka berhasil menghancurkan mitos angker pohon jemang yang telah puluhan tahun menciutkan nyali orang kampung.

Letupan api itu sesungguhnya berasal dari ka-bel listrik tegangan tinggi yang korslet karena air hujan. Tiang kabel itu berjarak kira-kira 120 meter dari puncak pohon dan ketinggian keduanya sepadan sehingga jika dilihat dari jauh sebelum memasuki tikungan seolah-olah letupan korslet yang menimbulkan bunga-bunga api itu berkobar-kobar dari puncak pohon jemang.

Jika tiba dari pengembaraan mistiknya, Mahar dan Flo selalu membawa cerita-cerita seru ke sekolah. Misalnya suatu hari mereka berkisah bahwa di tengah sebuah hutan yang gelap mereka menemukan kuburan dengan ukuran tambak hampir tiga kali enam meter dan jarak antara kedua misannya hampir lima meter. Karena orang Melayu selalu memasang misan di sekitar kepala dan ujung kaki maka dapat diperkirakan ukuran jasad yang terkubur di bawahnya adalah ukuran manusia yang luar biasa besar.

Flo memulai kisah bahwa ia menemukan piring-piring dari tanah liat di sekitar kuburan dengan ukuran seperti dulang dan kondisinya masih utuh. la juga menemukan berbagai jenis kendi yang tidak rusak dan terkubur dangkal. Flo dengan dingin saja memberi tahu kami bahwa ia tidur paling dekat dengan misan-misan itu dan tak sedikit pun merasa takut. Ia menceritakan sebuah pengalaman yang menderikan bulu kuduk seolah sebuah cerita lucu tentang baru saja meminumkan susu pada anak-anak kucing persia di rumahnya. Ingin kukatakan padanya bahwa gerabah-gerabah arkeologi itu memang tidak rusak tapi yang rusak adalah otaknya.

Sebaliknya versi Mahar jauh lebih menarik. Ia memberi penjelasan pengetahuan tentang hubu-ngan beberapa kuburan purba bertambak super besar di Belitong dengan teori-teori para arkeolog terkenal seperti Barry Chamis atau Harold T. Wilkins yang percaya bahwa pada suatu masa yang lampau manusia-manusia raksasa pernah menjelajahi bumi. Ia membuat analogi yang menarik, logis, dan lengkap dengan analisis waktu tentang kuburan itu dengan hal ikhwal tengkorak manusia raksasa Pasnuta yang ditemukan di Omaha atau kerangka tak utuh manusia yang digali dari situs-situs kubur-an purba di Dataran Tinggi Golan. Jika direkonstruksi kerangka-kerangka itu membentuk manusia setinggi hampir enam meter.

Maka cerita Mahar selalu mengandung ilmu. Dia memang seorang eksentrik yang berdiri di area abu-abu antara imajinasi dan kenyataan, tapi tak

diragukan bahwa ia cerdas, pemikirannya terstruk-tur dengan baik, dan pengetahuan dunia gaibnya amat luas. Mahar dan Flo duduk santai pada cabang rendah filicium seperti para paderi tukang cerita dari sebuah kuil Sikh dan kami, para Laskar Pelangi, bersimpuh membentuk lingkaran, terce-ngang dengan mata berbinar-binar mendengar keajaiban-keajaiban petilasan mereka dalam dunia magis.

Adapun orang lain dari kejauhan hanya akan melihat ikatan persahabatan Laskar Pelangi yang demikian indah.

Pada kesempatan lain mereka bercerita ten-tang petualangan mencari sebuah gua purba tersembunyi yang belum pernah dijamah siapa pun. Gua itu konon berada di tengah rimba dan eksistensinya hanya berdasarkan mitos samar turun-temurun dari sebuah komunitas kecil terasing yang hidup seperti suku primitif di barat daya Belitong. Mereka menyebutnya gua gambar. Tak tahu apa maksud nama itu dan bagi mereka gua itu adalah gua gaib yang tak 'kan pernah ditemukan.

Mendengar kisah itu Societeit berdiri telinga-nya dan merasa tertantang.

Ketika Societeit mendatangi komunitas yang hanya terdiri dari sebelas kepala keluarga dan mencari informasi tentang gua gambar, pawang suku di sana menertawakan mereka.

"Ananda tak 'kan menemukan gua itu, karena gua itu adalah gua siluman. Gua itu hanya akan menampakkan diri di malam hari yang paling gelap, itu pun hanya bisa dilihat oleh orang-orang gunung terpilih yang tak kita kenal."

Orang-orang gunung adalah cerita konon yang

lain. Kami menyebutnya orang Tungkup. Mereka tinggal di gunung dan juga tak pernah dilihat orang kampung.

"Selama tiga hari tiga malam kami berjalan kaki menembus rimba belantara liar untuk mencari gua itu. Pohon-pohon di sana sebesar pelukan empat orang dewasa dengan kanopi menjulang ke langit," demikian cerita Mahar.

"Saking lebatnya hutan itu sinar matahari tak mampu menembus permukaan tanah. Pohon-pohon berlumut, gelap dan lembap, penuh lintah, kelelawar, kadal, macan akar, luak, dan ular-ular besar," sambung Flo meyakinkan.

"Kami hampir putus asa, tapi beruntung, pe-ngetahuan Mujis yang baik tentang kontur hutan akhirnya membimbing kami menuruni sebuah lembah curam di antara dua gunung dan di dasar lembah itu, pas menjelang magrib, kami menemukan sebuah gua!"

Kami ternganga-nganga, merapatkan lingkaran duduk, mendekati dua petualang sejati yang sangat hebat ini, tak sabar mendengar kelanjutan cerita.

"Kami belum yakin apakah itu gua gambar se-perti dimaksud komunitas kuno itu. Wilayah itu sangat sulit ditempuh. Mulut gua sangat sempit dan ditutupi akar-akar mahoni raksasa, seperti jari-jari yang sengaja menyamarkan," demikian kata Flo ekspresif. Ah, Flo yang cantik, ramping, atletis, dan berkulit putih seindah anggrek bulan, dikombinasikan dengan cerita petualangan mendebarkan penuh getaran marabahaya di tengah hutan rimba dan sebuah gua misteri, sungguh sebuah perpaduan yang mem-buat dirinya tampak semakin indah. mentalitas dan prinsip-prinsip hidup Flo yang tak biasa, telah menjadikan dirinya seorang wanita yang sangat memesona.

"Ketika kami mendekat, kami terkejut karena beberapa ekor biawak dan musang yang garang berloncatan keluar dari gua." Mahar dan Flo sambung menyambung.

"Setelah menyiangi akar-akar itu akhirnya kami berhasil masuk ke dalam gua."

"Di dalamnya amat lebar dan memanjang, men-julur ke bawah seperti sumur yang landai, dingin, gelap, dan ada suara riak-riak air."

"Ternyata di tengah gua itu ada aliran air yang deras!"

Cerita semakin seru, seperti cerita petualang-an Indian Winnetou, kami duduk terpaku menyimak.

"Kami mencoba menelusuri gua itu, bau amis kotoran kelelawar menyengat hidung dan membuat perut mual. Sarang laba-laba hitam besar menutupi celah-celah gua seperti tirai putih berjuntai-juntai. Laba-laba itu demikian besar sehingga cecak dan kelelawar tersangkut di jaringnya dan mengering karena darahnya telah diisap serangga maut itu. Lintah merayapi dinding gua, mengincar darah anak-anak kelelawar." Mengerikan.

"Rantai makanan di dalam gua adalah singkat, tidak  se-perti  subekosistem  lain  di  luar!"  Flo menambahi.

"Kami terus merambah masuk sampai beratus-ratus meter tapi tak menemukan tanda-tanda gua itu akan berakhir."

"Gua itu seperti tak berujung ...," Mahar berce-rita dengan penuh penghayatan sehingga kami merasa seperti berada di dalam gua yang sangat mencekam itu. Kami merasakan udara dingin, kegelapan, ketakutan, dan seakan mendengar pekik keleawar dan percikan air di dalamnya.

"Tapi suara aliran air tadi semakin lama sema-kin bergemuruh, kami perkirakan di depan kami ada jurang di bawah tanah yang amat berbahaya, maka kami memutus-kan untuk beristirahat."

Wajah Mahar serius, nyali kami ciut ketika menatap-nya, dan dia melanjutkan cerita seperti orang berbisik.

"Kami agak merapat ke dinding gua untuk menyiapkan peralatan tidur, ketika aku menaikkan lampu aki untuk mendapat bentangan cahaya yang lebih besar, aku terkejut melihat bayangan goresan-goresan berpola yang samar di dinding licin itu ...."

Menegangkan sekali. Kami semakin merapat, Sahara menggigit jarinya, A Kiong berkali-kali menarik napas panjang, Samson tak berkedip, Lintang menyimak penuh perhatian, Syahdan ketakutan, Trapani memeluk Harun.

"Kami semua saling berpandangan lalu serentak menaikkan lampu, dan kami tersentak melihat sekeling kami."

Aku menahan napas ....

"Ternyata kami dikelilingi oleh ribuan goresan simbol-simbol purba atau huruf-huruf hieroglif primitif yang terhampar di dinding gua, menjalar-jalar misterius sampai ke stalagmit dan stalagtit!"

Rasanya aku mau meloncat dari tempat duduk, dan perut bawahku ngilu menahan kencing karena perasaan tegang yang meluap-luap. Kami terpana, bahkan tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Dadaku berdegup kencang.

"Kemudian di langit-langit gua terdapat bebera-palukisan paleolitikum yang menggambarkan orang-orang yang tak berpakaian sedang memakan mentah-mentah seekor burung besar yang mirip kalong."

"Sebuah gua antediluvium dengan seni lukis gua yang memukau!" sambung Flo.

Sekarang kami mengerti mengapa komunitas terasing tadi menyebut gua itu gua gambar.

"Ada lukisan kucing pohon, tombak kayu, ular tanah, bulan, dan bintang-bintang."

"Kami memutuskan untuk tidur di bagian itu ...," kata Mahar pelan. Raut wajahnya memperlihatkan bahwa ia masih memiliki sebuah kejutan lain yang tak kalah misteriusnya. Maka dada kami tak reda berdegup.

"Aku tak bisa tidur sepanjang malam. Ketika semua anggota Societeit terlelap karena kelelahan aku melamun dan memerhatikan dengan saksama simbol-simbol yang berserakan tak teratur memenuhi dinding dan langit-langit gua."

Kami terpaku, pasti akan terjadi sesuatu yang ajaib.

"Lalu aku merasa simbol-simbol itu seperti diam-diam terangkai sendiri dan membisikkan sesuatu ke telingaku...."

Oh, jantungku berdebar-debar.

"Tapi semuanya tak jelas, hingga aku merasa lelah dan memejamkan mata."

Kami menunggu kejutan besar itu.

"Namun tak lama kemudian, antara tidur dan terjaga, aku mendengar suara gemerisik seperti jutaan semut mendekatiku, dan agaknya ribuan simbol-simbol samar itu menjadi hidup lalu memberiku semacam mimpi, semacam wangsit, semacam gambaran masa depan ... semua ini tak pernah kuceritakan pada siapa pun!"
 
Kami semakin merapat, sangat penasaran.

"Apakah wangsit itu saudaraku Mahar??!!" A Kiong berteriak tak sabar menunggu terkuaknya sebuah misteri besar. la sedikit merayu. Suaranya tercekat dan bergetar. Bahkan Flo tampak tegang. Rupanya ia sendiri belum pernah mendengar wangsit ini.

Mahar menarik napas panjang sekali, agaknya ia merasa berat membocorkan kisah ini. "Begini ...," katanya serius.

"Mimpi itu memperlihatkan bahwa sebuah ke-kuatan besar di Pulau Belitong akan segera runtuh. Orang-orang Melayu Belitong akan jatuh melarat dan kembali berperikehidupan seperti zaman purba dulu, yaitu bernafkah secara bersahaja dari hasil-hasil laut dan hutan. Sebaliknya, du-nia luar akan maju demikian pesat. Penggunaan kompu-ter akan merasuki seluruh segi kehidupan. Penggunaan komputer yang merajalela itu menyebabkan praktik-praktik akuntansi tak lama lagi akan punah ...."


Next Novel Laskar Pelangi Bagian 29 (Pulau Lanun)
Laskar Pelangi Adalah Novel Karya Andrea Hirata
Tanpa Bermaksud Merugikan Sang Penulis,Cuma Sekedar Sharing Saja. Jangan Lupa Silahkan Beli Novel Karya - Karya Beliau.
Share This :

Artikel terkait : Novel Laskar Pelangi Bagian 28 (Societeit de Limpai)

Posting Lebih Baru Posting Lama

0 komentar: