Novel Sepasang Kaos Kaki Hitam Bagian 18


Novel Sepasang Kaos Kaki Hitam Bagian 18
Nggak pernah ada yg bisa mengendalikan waktu. Di satu waktu kadang gw merasa waktu sangat lambat berjalan, menahan gw lebih lama dari yg semestinya. Tapi di lain hari, seperti yg gw rasakan hari ini, waktu sangat cepat berlalu meninggalkan hari kemarin. Yg tersisa hari ini, hanya serpihan kenangan yg tertinggal dalam hati, atau bahkan terlupakan begitu saja.

Hampir empat tahun sudah gw di Karawang. Semakin hari matahari bersinar semakin indah menerpa helai demi helai padi di sawah Teluk Jambe. Sinarnya hangat, menyemai benih-benih yg tumbuh dalam hati. Gw...sudah dalam tahap nggak bisa dipungkiri lagi...rasa sayang gw ke Meva tercipta begitu dalam. Menembus semua batas-batas perbedaan diantara kami. Bukan, bukan kecantikannya yg memang sangat mengganggu ketenangan hati gw, tapi kebersamaan kami yg membuat gw seolah memilikinya hidup dan mati. Rasa yg seharusnya nggak boleh terlalu melenakan.

Toh pada akhirnya gw juga sadar, nggak ada yg abadi di dunia. Semua yg bernyawa akan mati. Dan semua pertemuan akan mengalami perpisahan. Adalah Meva yg menyadarkan gw akan hal itu. Di satu pagi yg hangat, ketika matahari baru saja menampakkan diri di balik awan pagi.

Gw baru bangun tidur. Membuka mata, dan mendapati sesuatu yg hangat di pipi gw.

Meva. Dia tertidur pulas di samping gw. Satu tangannya di pipi gw dan satu yg lainnya menopang pipinya. Wajahnya yg damai cukup menceritakan indahnya mimpi yg sedang ia nikmati. Mendadak hati gw mencelos seperti ada sebongkah es yg meluncur dan meliuk-liuk dalam perut.

Tuhan, kalau boleh gw berharap...gw nggak mau momen seperti ini berakhir. Gw mau terus seperti ini. Gw mau ada di sampingnya. Melihatnya terlelap di samping gw dan mengucapkan selamat pagi ketika dia membuka matanya.

Semalam gw temui Meva menangis dalam kamarnya. Suaranya yg serak terdengar menembus dinding pintu.

"Lo kenapa Va?" gw buka pintu kamarnya dan mendapati Meva meringkuk di sudut kamar.

Meva mengangkat wajahnya dan begitu melihat gw, dia bergegas memeluk membenamkan wajah di dada gw. Tangisnya membasahi kaos yg gw pake.

"Ada apa?" gw menepuk pundaknya pelan.

"......"

"Lo puasin dulu deh nangisnya. Kalo udah tenang baru cerita..."

"......"

"...atau tidur kalo lo mau."

"Gw nggak mau tidur Ri..."

"Yaudah yaudah sok atuh sekarang nangis aja dulu."

"Lo gimana sih..." dengan suara sengaunya. "...ada orang nangis bukannya disuruh tenang..."

"......"

"...malah disuruh puasin nangisnya."

"Yaudah lo jangan nangis lagi. Cerita ke gw, ada apa?"

"Gw nggak mau cerita."

"Yaudah kalo gitu silakan nangis."

"Gw nggak mau nangis."

"Kalo gitu gw gampar lo, boleh?"

Meva menarik wajahnya. Sejenak menatap gw, lalu melayangkan telapak tangannya ke pipi gw.

"......"

"Kenapa?" tanya gw ke Meva yg terdiam. Telapak tangannya cuma berjarak setengah inchi dari pipi gw.

"Nggak papa..." Meva menurunkan tangannya. "Gw lagi sedih aja."

Meva melepas pelukannya dan mulai menyeka airmata dengan ujung kemeja putih gombrang yg dipakainya. Kemeja itu sangat besar sampai menutupi hampir ke lututnya. Malam ini Meva tanpa stoking hitamnya.

"Gw lagi sedih Ri..."

"Gw akan dengan senang hati dengerin cerita lo. Kalo lo mau cerita..."

"Nggak ada yg perlu gw ceritain kok. Gw cuma lagi mikirin beberapa hal kecil."

"Apa itu?"

"Gw nggak mau wisuda Ri."

"Kenapa? Lo betah jadi mahasiswa abadi ya?"

"Enggak gitu juga. Gw takut aja..."

"Takut apa?"

"Gw masih takut ngadepin masa depan gw. Gw takut, begitu gw keluar dari kosan ini, gw nggak akan dapetin suasana kayak gini lagi.."

"......"

"...gw nggak mau kehilangan yg udah gw dapatkan saat ini."

"Bukannya emang udah harusnya gitu ya?" gw mulai merasakan yg dikatakan Meva. "Tantangan sebenernya kan saat lo selesai kuliah. Mulai kerja. Mulai ngebangun kehidupan lo tanpa bimbingan siapa-siapa. Mulai mandiri."

"Justru itu! Gw nggak suka, kalo gw mesti mandiri. Gw nggak suka, tanpa bimbingan siapapun. Gw masih labil Ri. Gw masih butuh bimbingan orang di dekat gw..."

"......"

"Gw...masih...butuh...elo....."

Dia terdiam. Airmatanya sudah berhenti mengalir. Dan saat kedua mata kami bertemu, gw bisa merasakan caranya menatap gw, sama dengan cara gw menatap dia.

"Dasar manja."

"Biarin!"

"Terus mau sampe kapan lo kayak gini?"

"Biarin aja. Gw pengen kayak gini terus."

"Berarti lo nggak akan dewasa donk.."

"Biarin!"

"Manja.."

"Enggak papa."

"......"

"Ri..."

"Kenapa lagi?"

"......"

"Apa maksudnya nih, merem-merem kayak gitu?"

"......" Meva mengangkat dagunya.

"Jangan becanda ah..."

"......"

"Gw nggak becanda..." katanya tanpa membuka mata.

"Eh mau ujan tuh, angkatin jemuran sono."

"......"

"By the way kemeja yg lo pake punya siapa? Kok gombrang gitu yaa?"

"......"

"Wah malem ini mendadak kamernya panas."

"......"

"Oiya kemaren gw sempet ke toko bu......"

"......"

".........."

"....................."

"Va?"

"Iya?"

"Jangan buka mata lo............"

"......"

"Va.."

"Ya?"

"Jangan buka mata loe ya..."

"Mmm...kenapa gitu?"

"....."

"....."

"Gw lagi ngupil soalnyah."

Meva membuka matanya, kaget dan secara refleks mendorong kepala gw ke belakang.

"Najong lu!!" dia mengambil bantal dan memukul-mukulkannya ke gw.

"Ya elo juga ngapain pake merem-merem gituh???" gw melindungi kepala gw dengan kedua tangan.

"Jorok banget!" masih memukulkan bantal ke gw. "Nggak sopan ngupil depan cewek!"

"Enggak! Tadi gw boongan Vaa..."

"Gw liat tangan lo di idung!"

"Gw garuk-garuk doang! Gatel.."

"Gatel apaan? Orang jelas tadi gw liat lo lagi ngupil di depan gw!!"

"Makanya tadi gw bilang lo jangan melek!"

"Udah balik sana ke kamer loe!"

"Iya gw balik....tapi berenti dulu lah mukulin gw nya."

Meva melempar bantal ke kasur. Dia berkacak pinggang di depan gw dengan ekspresi wajah yg aneh.

"Sebagai hukumannya, tiga hari ini lo nggak boleh masuk kamer gw!" katanya.

"Iya juragan...ampuun..."

"Yaudah pergi sana! Sebelum gw berubah pikiran buat makan daging orang!"

Gw mencibir lalu beranjak keluar menuju kamar gw. Kayaknya ni anak beneran sewot. Ya abisnya ngapain tiba-tiba dia merem-merem gitu?

Gw baru mau nutup pintu kamar waktu mendadak Meva menahannya. Dia memegang daun pintu dari luar.

"Jangan ditutup," katanya lalu asal masuk ke kamar gw.

"Mau ngapain lo? Tadi katanya gw nggak boleh ke kamer lo?"

"Kan belum ada larangan buat gw ke kamer lo? Yg nggak boleh tuh elo ke kamer gw...kalo gw ke kamer elo..."

"Iya iya elo boleh ke kamer gw!"

"Nah tuh ngerti," Meva menuang teh.

Gw duduk dan menyalakan televisi. Lebih baik gw mah ngalah aja deh kalo sama dia.

"Lo mau teh?" kata Meva.

"Nggak, makasih."

"Kopi?"

"Emang ada?"

"Enggak..enggak ada..."

"......"

"Nih teh gw aja."

"Wuih udah nggak marah lagi nih ceritanya."

"Ini kan kamer elo. Kalo di kamer gw, lain lagi ceritanya."

Hadeuuh...beneran nih cewek gampang bener emosinya berubah!

Meva duduk di sebelah gw dan menyandarkan kepalanya ke pundak kiri. Kedua tangannya memeluk lutut.

"Ganti dong pilemnya nggak seru," katanya.

Tanpa mendebat gw mengganti channel.

"Ini?"

"Nggak asyik. Masa nonton berita?"

"Ini?"

"Sinetron lama ini mah, diulang lagi!"

"Ini?"

"Jangan lah. Ganti ganti."

"......"

"Nah ini dia! Kayaknya bagus nih pilem!"

"INI KAN YG PERTAMA TADI???" Zzzzzt...

Meva cengar-cengir nggak jelas. Dia masih menyandarkan kepalanya. Wangi shampo dari rambutnya mengalir masuk ke rongga hidung. Gw hafal banget sama wangi ini. Meva belum pernah pake shampo selain yg biasa dipakainya.

"Lo kenapa sih Va? Tadi nangis, terus ngamuk...sekarang cengar-cengir gitu?"

"Enggak kok enggak papa. Cuma lagi sensi ajah."

"PMS?"

"Absolutely."

"Oiya udah tanggal muda. Udah waktunya yak? Hehehe."

"......"

Entah karena filmnya yg beneran jelek atau wangi shampo Meva yg 'mengganggu', malam ini mendadak tivi ngebosenin banget.

"Gw takut Ri..." Meva mulai curcol.

"Takut kenapa?"

"Ya takut aja! Secara gw kan udah nggak punya siapa-siapa lagi. Apa jadinya gw begitu wisuda nanti? Nggak ada yg peduli."

"Oma? Tante?"

"Oma udah terlalu tua buat merhatiin cucunya. Tante...yah tentu aja tante gw sibuk ngurusin keluarganya sendiri. Coba lo jadi gw, sedih nggak sih kayak gitu?"

"Iya lah pasti sedih. Gw ngerti kok. Tapi kalo lo nggak lulus-lulus, mau jadi apa?"

"Enggak tau! Ya pokoknya gw belum siap aja, ngadepin masa depan gw sendiri..."

"......"

"...gw ini masih labil Ri. Jujur aja gw ngerasa selama ini gw belum nemuin jati diri gw sebenernya. Gw masih butuh bantuan orang lain buat nemuin itu.."

"Tenang aja, semua pasti ada prosesnya kok. Jalani aja apa adanya."

"Huh...seandainya aja gw bisa muter waktu...gw pengen banget balik ke masa kecil gw......masa-masa di mana belum ada yg namanya beban hidup. Belum ada yg namanya tanggungjawab. Indah banget deh!"

"Boleh aja punya keinginan kayak gitu, tapi lo juga pasti tau kan nggak mungkin kita bisa muter waktu."

"......"

"Di hidup ini ada yg pergi dan akan kembali, ada juga yg pergi tapi nggak mungkin kembali. Kita nggak mungkin muter waktu, tapi kita bisa memanfaatkan waktu yg sekarang kita punya. Meski nggak banyak, kita bisa menggunakannya untuk menciptakan kenangan yg berarti.."

"......"

"Gw yakin suatu saat nanti lo bakal ketawa inget kejadian-kejadian hari ini."

"......"

Meva diam. Mungkin lagi berusaha mencerna kalimat gw tadi. Sepuluh menit tetep nggak ada suara. Gw tengok Meva. Anjrid, pantesan dari tadi nggak nyaut ni anak ternyata molor!

"Kampret," gerutu gw dalam hati.

Gw teruskan nonton tivi nya tanpa bergerak sedikitpun dari duduk gw. Gw takut ngebangunin Meva. Dia pasti kecapekan setelah nangis tadi. Ya sudahlah, akhirnya gw pun tertidur dalam duduk gw......

Gw pandangi lagi wajahnya yg penuh damai. Seolah beban yg semalam diungkapkannya menguap bersama embun pagi yg mulai mengering. Dalam hati gw sebenernya iba melihat keadaannya sekarang. Tanpa ayah dan tanpa ibu, tentu sangat sulit buat Meva yg anak tunggal untuk berjuang sendirian. Dengan masa lalu yg begitu hancur serta trauma yg dialaminya, itu akan menambah berat bebannya.

Meva butuh seseorang yg membantunya keluar dari masa-masa sulit. Dia butuh kuping yg bersedia mendengarkan curhatannya. Dia butuh mulut yg mau memberikan nasihat dan support saat dia terpuruk. Dia butuh tangan yg selalu menuntunnya untuk tetap berada di jalan yg akan membawanya ke ujung impiannya. Dia butuh kaki yg rela meninggalkan jejak, untuk dia ikuti, saat dia tersesat dari jalan yg seharusnya dia tapaki. Dia butuh hati yg mau menerima dia apa adanya seburuk apapun masa lalunya. Dan dia butuh pundak untuk menyandarkan kepalanya ketika dia lelah dengan semua bebannya.....

Telapak tangan Meva terasa hangat di pipi gw. Gw genggam tangannya, sejenak gw tergoda untuk sekedar mencium jari-jarinya yg lentik, sebelum akhirnya gw menaruhnya pelan di sisi tangan yg lainnya. Gw bangun. Tapi belum mau beranjak dari tempat tidur.

Gw terdiam di tempat gw. Memejamkan mata sambil membayangkan seandainya ada satu diantara kami yg pergi. Apa yg harus dilakukan?

Meva nggak lebih dari seorang anak kecil yg merengek-rengek meminta sesuatu pada ibunya saat melihat sesuatu yg disenanginya. Dia masih butuh bimbingan untuk menemukan jati diri sebenarnya. Dia masih labil. Makanya kadang gw suka sok bijak ngasih nasihat gitu. Gw tau Meva adalah tipe orang yg mudah mencerna dan biasanya selalu termotivasi setelah mendengar ocehan nggak jelas gw.

Gw care sama dia. Gw nggak mau sesuatu yg buruk menimpanya. Saat inilah gw sadar tahap sayang gw ke Meva bukan sekedar suka ke lawan jenis, tapi ini adalah tentang bagaimana menjaga orang yg kita sayang supaya nggak terluka. Menjaga hati dan tubuhnya.

Saat gw mengetikkan tiap sms balasan ke Meva, gw telah memberikan tangan gw untuk tetap membuatnya tersenyum dengan banyolan-banyolan garing gw. Setiap dia minta ditemani makan, gw sudah memberikan kedua kaki gw untuk berjalan di sampingnya, menjaganya dari hal buruk yg mungkin saja terjadi ketika dia berjalan. Dia membuat gw terjaga di tengah malam cuma untuk mendengarkan curhatnya, gw telah dengan rela menyerahkan sebagian mimpi indah gw, sebagian waktu yg seharusnya gw gunakan untuk istirahat dan menggantinya dengan ocehan ngawurnya. Gw selalu berdiri di beranda tiap Senin sore yg hujan, mengorbankan mata gw untuk melihat kalau saja Meva pulang kuliah, turun dari angkutan umum dan cuma bisa berteduh di bawah telepon umum rusak. Gw akan selalu segera menjemputnya dengan payung yg menjaganya dari air hujan yg bisa membuatnya sakit. Tiap kalimat yg gw ucapkan, adalah doa semoga dia tetap dalam lindungan Tuhan.

Maafin gw Va, gw bukan bermaksud membuat sebuah perhitungan atas apa yg telah gw lakukan. Gw cuma ngerasa, gw sudah berusaha memberikan semua yg gw miliki buat elo. Entah lo menerimanya seperti apa, gw nggak peduli. Yg jelas, sayang gw ke elo lebih dari sayang seorang lelaki yg rela memetik sekuntum edelweiss di tepi jurang demi wanitanya. Lebih dari sebuah rasa ingin memiliki. Tapi yg gw punya adalah sebuah keinginan untuk menjaga. Gw nggak akan memaafkan diri gw sendiri kalo sampe terjadi sesuatu yg buruk sama lo.

Gw buka mata dan mendapati gw masih terduduk dalam kamar yg pengap ini. Meva...dia masih di sebelah gw. Meringkuk di balik kemeja gw yg digunakannya sebagai selimut.

"Gw sayang elo Va," gw cuma bisa berkata dalam hati. "Gw juga sama seperti lo. Gw nggak mau waktu ini cepet berakhir. Gw pun masih butuh elo, untuk mewarnai pelangi di hidup gw. Elo adalah pelita saat gw di tengah gelap malam. Elo adalah jiwa saat raga gw nggak lagi bernyawa."

Lagi-lagi hati gw berdesir. Ah, shit! Gw kok semellow itu yak??

"Ri..." panggil Meva pelan tanpa terbangun dari tidurnya. Tangannya meraba kasur dengan mata terpejam.

"Gw di sini Va," gw raih tangannya. Dia berhenti bergerak.

"Kenapa Va?" tanya gw.

"Lo jangan kemana-mana ya..." kayaknya ni anak ngelindur. "...temenin gw."

"Iya gw nggak kemana-mana kok.."

"......"

Lama kami diam. Genggaman tangannya mengendur. Gw ambil selimut dari lemari dan menutupi tubuhnya. Sekali lagi gw pandangi Meva.

"Endless Love," gumam gw pelan.

Dan pagi itu gw akhiri dengan mengecup keningnya pelan...........

"Dari dulu juga gw bilang apa..lo tuh suka sama Meva," kata si Gundul. "Sekarang kebukti kan."

Gw cuma senyum lebar.

"Dulu nggak sedalem ini soalnya. Gw masih bisa nutupin perasaan gw waktu itu," ujar gw. "Tapi kok makin lama yg gw rasain kok gw makin nggak bisa tutupi kalo gw sayang dia ya Dul?"

Indra tersenyum lebar. Gw tarik nafas panjang dan mengembuskannya cepat. Gw pandangi bayangan gw sendiri yg tampak melengkung dalam pantulan cangkir putih berisi teh hangat. Indra meraih cangkirnya dan meminum sedikit tehnya.

"Jadi," ucapnya kemudian meletakkan cangkir ke tatakannya. "Apa alasan lo cinta sama Meva?"

Gw termenung.

"Gw...gw....." rasanya bingung mencari kalimat yg tepat untuk dijelaskan. "Gimana yak ngomongnya..?"

"Lo pasti punya alasan donk kenapa lo bisa segitu cintanya sama Meva?"

Gw menggeleng pelan.

"Kalo lo beneran cinta, gw yakin lo punya alasan untuk itu."

Gw tarik nafas panjang lagi. Jujur gw sulit sekali buat ngejawab pertanyaan Indra.

"Menurut gw semua hal itu butuh alasan. Lo makan karena lo laper, lo minum karena haus, lo tidur karena ngantuk." Lanjut Indra lagi. "Nah sekarang lo sayang sama Meva...lo cinta sama dia...itu juga punya alasannya dong?"

Ah, gw nggak berhasil menemukan kalimat yg tepat.

"Gw suka senyumnya yg manis," kata gw sedikit ragu. "Gw suka jarinya yg lentik. Gw suka caranya bicara ke gw. Gw suka teriakannya yg kadang bikin budek kuping gw. Gw suka setiap gerak tubuhnya. Gw suka bentuk matanya yg agak sipit. Gw suka perhatiannya. Gw suka hidungnya yg mancung dan rambut panjangnya. Gw suka perhatian yg dia kasih. Gw suka karena dia selalu ada nemenin gw. Gw suka semuanya deh....."

"......"

"Ya ya ya...gw suka Meva karena itu."

"......." Sejenak kami berdua diam.

"Tapi itu semua bukan alasan gw mencintainya Ndra," kata gw. "Kalo gw bilang gw cinta Meva karena kecantikannya, maka saat dia tua nanti dan mulai kehilangan kecantikannya, gw nggak akan punya alasan lagi untuk mencintainya."

Sejenak gw menarik nafas.

"Kalo gw katakan gw cinta karena perhatiannya, saat nanti dia nggak perhatian lagi, gw pun nggak punya alasan untuk mempertahankan cinta gw. Kalo gw cinta karena dia selalu ada di samping gw, saat dia mati nanti...tentu nggak akan ada alasan lagi buat gw tetap mencintainya..."

"......"

"Gw cinta Meva, karena gw tulus..."

Indra menunduk dan usapi matanya yg sempat berkaca-kaca.

"Lo hebat Ri..." dia menepuk bahu gw pelan. "Gw bahkan belum bisa mencintai istri gw seperti yg elo lakuin ke Meva. Terharu gw sob. Gw nggak tau ternyata lo sedalam itu cinta ke Meva."

Gw masih termenung.

"Tapi, lo nggak kepikiran buat ngungkapin perasaan lo ke dia?"

Gw senyum sendiri. Yg ada di ingatan gw adalah 'tragedi headset'.

"Belum..." jawab gw.

"Kenapa?"

"Gw belum berani Ndra. Gw belum berani ngadepin resikonya."

"Kenapa? Lo takut ditolak? Menurut gw dia juga ada rasa kok ke elo?"

Gw menggeleng pelan.

"Bukan itu...Gw belum berani, kalo ternyata perbedaan yg ada diantara gw dan Meva, cuma akan membuat hubungan kami kandas. Yah seperti yg elo tau, keyakinan Meva kan beda sama gw."

"Bukannya lo pernah bilang yak, kalo perbedaan nggak akan jadi penghalang buat lo?"

"Iya tapi ini dalam konteks berbeda Dul. Gw bukan cuma sekedar pengen jalanin hubungan tanpa tujuan yg jelas. Gw mulai berpikir bahwa gw harus membangun sebuah keluarga, seperti yg udah lo lakukan sekarang. Gw mau itu. Tapi gw juga nggak mau maksa Meva buat melepas yg selama ini diyakininya. Dan gw pun sama, gw akan tetap seperti ini adanya sampe gw tua nanti."

Indra mengangguk perlahan.

"Kalo gitu lo jalanin ajah dulu. Setelah lo pastikan Meva juga punya tujuan yg sama dengan lo, kalian rundingkan deh gimana baiknya. Gw yakin Meva orang yg mengerti soal perbedaan ini."

Gw termenung. Menunduk dan melamun. Mungkin gw orang yg egois. Gw nggak bisa memungkiri hati kecil gw bahwa ingin memiliki Meva seutuhnya, gw ingin kami membangun sebuah keluarga, tapi tentu saja dengan keyakinan yg sama. Nggak mungkin kan dalam satu kapal ada dua nahkoda. Karena gw pun pengen anak-anak gw kelak seiman dengan gw.

Ini dia egoisnya gw! Gw belum bisa terima dia apa adanya! Maybe? Gw nggak peduli dengan masa lalunya yg kelam. Gw nggak peduli dengan kebiasaan anehnya melukai diri sendiri. Tapi kalo soal keyakinan?

"......."

Hufft......Gw tatap lagi wajah damai Meva yg masih terlelap pagi itu. Percakapan gw dan Indra beberapa hari yg lalu saat gw berkunjung ke rumahnya, menguap dalam pikiran gw. Gw cuma bisa memaki diri sendiri dalam hati. Gw masih merasa jadi orang paling egois. Gw ingin memiliki Meva tanpa gw mau menerima satu sisi kecil yg berbeda.

"Maaf Va," kata gw dalam hati. "Gw masih harus banyak belajar untuk bisa mencintai lo apa adanya. Dan kelak ketika saat itu datang...gw akan lakukan apapun demi kita berdua. Bahkan seandainya harus membangun kehidupan di tempat yg menerima perbedaan keyakinan pun, gw akan lakukan itu......"

"Woy kebo," Meva muncul di depan kamar gw sambil kucek-kucek matanya. Kemeja putih gombrang yg dipakainya tampak kusut.

Gw buang puntung rokok yg lagi gw hisap. Gw inget Meva nggak suka liat gw ngerokok. Sejak kepergian Echi, gw memang sudah hampir meninggalkan kebiasaan merokok. Cuma beberapa kali aja di kantor. Itu pun kalo bener-bener lagi sumpek.

"Eh udah bangun loe cing," sahut gw sambil tetap memetik senar gitar warisan si Gundul.

Meva menguap, menggeliatkan badan lalu berjalan mendekati gw di beranda. Tanpa basa-basi dia meminum kopi gw.

"Kok rasanya agak aneh ya? Agak gimanaa gitu.." dia mengamati air berwarna hitam dalam gelas putih di tangannya. "Ini kopi apaan sih?"

"Kopi biasa kok..."

Meva kernyitkan dahi.

"...cuma emang kopi itu gw bikinnya kemaren."

"Jadi ini kopi basi donk?? Ah sialan lo Ri.!"

"Yeey yg salah siapa maen sruput ajah nggak minta ijin dulu."

Meva meludah beberapa kali lalu usapi mulutnya sementara gw ngakak puas.

"Kok doyan sih minum kopi basi??"

"Enggak papa. Gw males nyeduh lagi. Baik buat kesehatan juga kok."

Meva menyeringai jijik.

"Bikinin gw teh lah," pintanya sedikit memerintah.

"Entar lah...lagi asyik nih. Lagi nemu nada, kali aja bisa jadi lagu."

"Buruan bikinin lah."

Zzzztt...mulai nongol deh cerewetnya. Kok bisa ya gw jatuh cinta sama cewek kayak gini?

Gw taro gitar di lantai dan beranjak ke kamar, kebetulan dispensernya udah nyala sejak semalem, kayaknya Meva lupa matiin setelah nyeduh teh buat gw. Gw lagi nyari-nyari dimana gw naro teh, ketika terdengar petikan gitar dari luar. Lalu disusul suara cewek nyanyi.

I can't live...
If livin is without you...
I can't live...
I can't give anymore...

Gw hafal liriknya. Itu lagu "Without You" nya Mariah Carey. Gw pernah denger Meva nyanyi lagunya Jamrud, tapi yg kali ini beda. Suaranya merdu banget. Sangat terlatih.

"Gw baru tau lo bisa maen gitar," kata gw. Gw taro cangkir teh di sebelah Meva.

"Udah biasa kok. Dulu gw sering nyanyi di Kelas Minggu. Tapi sekarang udah jarang ke gereja lagi."

"Hmm...suara lo bagus," gw memujinya.

Meva tertawa pelan.

"Wajar lah gw dulu sempet ikut les vokal."

"Oh..."

Meva turun dari pagar beranda. Dia memberikan gitarnya ke gw.

"Kenapa? Lanjutin aja."

"Gw mau mandi."

"Nah ini teh nya gimana?"

"Buat lo ajah."

Errrr....tadi ngotot minta dibuatin teh anget, sekarang malah ditinggal gitu aja!

"Yaudah," gw dengan kesal meminum habis teh nya.

"Lho kok diabisin!" Meva mengambil cangkir kosong dari tangan gw.

"Katanya buat gw?"

"Ya tapi kan enggak pake diabisin juga kalee!"

"Entar gw bikin lagi deh!" biar kesel tapi gw ngalah aja. Nggak akan mudah buat debat sama Meva.

"Bagus...bagus....entar bikinnya nggak usah manis-manis yak."

"Lo diabetes?"

"Enggak. Gw kan udah manis jadi nggak perlu minum yg manis, soalnya kata dokter nanti gw tambah maniiis...." katanya pede BANGET.!

"Pantesan di kamer lo banyak kecoanya. Ternyata lo manis yak?!" kalimat terakhir gw ucapkan dengan nada menyindir.

Meva cuma nyengir nggak jelas.

"Eh tapi gw agak gendutan nggak sih?" tanyanya entah ke gw apa ke dirinya sendiri. "Ri, menurut lo gw gendut nggak?" dia meraba pinggangnya.

"Enggak." jawab gw males. Paling males gw dapet pertanyaan khas cewek semacam ini.

"Tapi berat badan gw naek loh dibanding bulan kemaren. Jangan bohong laah...gw gendut nggak sih?"

"Enggaak..."

"Bohong ah!"

"Hmmm..iya deh, mungkin lo perlu sedikit diet."

"Ooh jadi menurut lo gw gendut yak!!"

Sempat kepikiran buat loncat bunuh diri tapi karena gw nggak punya asuransi jiwa, jadi gw tunda deh sampe batas waktu yg nggak ditentukan.

"Gw nggak gendut ah segini mah. Iya kan??"

Gw mengangguk terpaksa.

"Jawabnya nggak ikhlas banget."

"......."

Meva menguap lagi. Dia menggeliatkan badan.

"Eh tadi kok pas gw bangun tidur, kancing atas gw kebuka yak?" kata Meva. "Hayyooo......elo ngapain aja semalem?" dia melotot dengan ekspresi dibuat-buat.

"Weiitz tunggu dulu. Kayaknya gw tersinggung nih ditanya ginian." Gw bales melotot. "Elo mimpi berjemur di pantai kalee, kan panas tuh trus lo buka kancing lo sendiri."

"Masa sih?" Meva berpikir keras sambil mengetukkan jari telunjuk ke dagu. Keliatan tolol banget sumpah. "Yakin nih lo nggak ngapa-ngapain?"

"......."

"Oh yaudah. Awas kalo gw sampe kenapa-kenapa, lo yg bakal gw mintain tanggungjawab."

"......."

Meva masuk ke kamarnya. Terdengar suara kran air mengucur deras dari dalam. Limabelas menit kemudian Meva keluar. Masih mengenakan handuk, dia buru-buru bilang.

"Riii.....gw 'dapet'!" katanya setengah berteriak.

"Terus kenapa?? Apa hubungannya sama gw!"

"Ya berarti lo nggak perlu tanggungjawab."

"Duh yak..kita kan ENGGAK ngapa-ngapain semalem!!"

"Hehehe.." Meva nyengir bodoh. "Becanda kok. Beliin gw pembalut yak? Gw nggak ada stok nih."

"Beli sendiri sana!"

"Repot nih. Beliin laah..!"

"Nggak mau!"

"Beliin!"

"...Iya..iya.."

"Tengkyu," Meva balikkan badan dan bergegas masuk lagi ke kamarnya.

"......."

Di salahsatu sudut kafe kecil di daerah Cikarang...

Malam yg dingin disulap menjadi hangat berkat lantunan lagu-lagu jazz dari band pengisi acara. Gw suka banget waktu lagu Fly Me To The Moon nya Frank Sinatra dibawakan versi akustik. Nadanya catchy banget di kuping. Gw liat pengunjung yg lain juga menikmati sajian lagunya.

"Lo mau pesen apa?" tanya Lisa ke gw ketika waitress cewek dengan celemek bertuliskan nama kafe ini menyambangi kami.

"Kentang goreng aja deh..." gw buka pilihan menu di buku yg disodorkan waitress. "Sama wedang jahe.."

"Maaf Pak, di sini nggak sedia wedang jahe" si waitress langsung nyela gw.

"Oh.." kata gw oon. Padahal maksudnya tadi mau candain Lisa doang. Si pelayan tersenyum geli yg segera ditutupinya dengan note book kecilnya. "Kalo gitu lemon tea aja deh."

Lisa kernyitkan dahi mendengar paduan menu yg gw pesan.

"Saya samain aja deh mbak.." ucapnya agak terpaksa.

Waitress itu berlalu meninggalkan kami. Gw senyum sendiri. Di depan gw, duduk dengan tenang Lisa dengan senyum yg seperti nggak ada habisnya buat gw. Malam ini dia membiarkan rambutnya tergerai rapi tanpa menutupi kedua telinganya. Kacamata berbingkai tipis menghiasi bola matanya yg indah. Kalung emas tipis melingkari lehernya yg jenjang. Dress hijau sopan dengan kerahnya yg jatuh manis itu semakin melengkapi penampilan bedanya malam ini.

"Lo pinter milih tempat," komentar gw memandang berkeliling.

"Enggak juga. Ini gw boleh dapet referensi dari temen kok."

Gw mengangguk pelan. Kami ngobrol basa-basi sampai hidangan datang. Sambil ngemil pun kami mulai obrolan ke arah yg lebih serius.

"Selamat ulang tahun ya..." kata gw sambil tersenyum lebar. Lisa tersipu malu. Dia meminum lemon tea nya cuma untuk sekedar menenangkan diri.

"Makasih. Tapi kadonya mana?" jawabnya malu.

"Wah justru itu. Gw mau bilang kalo gw lupa bawa kado. Hehehe..."

"Jiaah," Lisa menepuk jidatnya sendiri. "Gw pikir gw bakal dapet kado.."

"Enggak kok becanda. Gw bawa kok. Tapi ntar aja yah dikasihnya pas mau pulang."

Lisa tertawa kecil.

"Nggak papa kok Ri. Nggak usah ngerepotin. Lo bisa dateng aja gw udah seneng banget."

Gw senyum lagi. Nampaknya malam ini agendanya adalah lomba memberi senyum. Yg paling banyak senyum, dia yg bayarin makanannya. Hehehe.

Besok hari ulang tahun Lisa. Dia ngajakin gw dinner gitu, nraktir katanya. Karena kebetulan hari ini juga libur yaudah gw iyakan ajakannya. Lisa yg milih tempat. Gw tinggal nunggu dijemput depan kosan terus cabut deh. Lumayan jauh memang dari Karawang. Untung tadi berangkatnya sore jadi nggak kemaleman di sini.

"Mungkin nggak sih doa di malam ulang tahun tuh dikabulkan sama Tuhan?" Lisa mengaduk lemon tea nya.

"Hmm jelas mungkin lah. Kapanpun mau doa, Tuhan pasti denger kok," gw sok diplomatis.

"Apa cuma sebatas 'didenger' aja?" Lisa nampaknya memberi penekanan bahwa dia ingin gw tau dia punya satu doa yg seharusnya gw juga tau.

"Enggak juga. Pasti dikabulkan kok."

"Tapi kok ada beberapa doa gw yg dikabulkan Tuhan? Dari dulu lho, sampe sekarang."

Gw tertawa pelan. Gw juga sebenernya nggak terlalu paham sama masalah beginian. Harusnya Lisa curhat aja sama ustad. Hehehe.

"Gini deh, gw mau sedikit cerita, boleh?" kata gw dijawab anggukan kepala Lisa. "Mmmh..jadi gini. Suatu hari ada seorang pelukis dan asistennya yg lagi mengerjakan sebuah lukisan di atap gedung. Objek mereka saat itu adalah pemandangan kota dari ketinggian..."

Lisa memperhatikan secara saksama.

"...selesai lukisannya jadi, si pelukis sangat terkagum-kagum dengan hasil yg dia buat. Dia mulai nyoba ngeliat lukisannya dari arah-arah yg berbeda. Hasilnya tetep sama. Lukisan ini sangat indah di matanya, sementara sang asisten cuma senyum sendiri liat si pelukis yg mulai berjalan mundur, mencari sudut pandang yg lain..."

"......."

"...tanpa sadar, si pelukis berjalan ke ujung gedung. Asistennya kebingungan buat memperingatkan si pelukis. Kalau saat itu dia berteriak, si pelukis pasti terkejut dan malah kehilangan keseimbangan. Jadi si asisten segera ngambil pisau dan mulai ngerobek lukisan indah itu. Si pelukis yg heran kemudian berhenti jalan dan menghampiri asistennya. Dia marah besar. Tapi setelah diceritakan kejadian yg sebenernya, si pelukis menangis terharu dan berterimakasih ke asistennya.."

Lisa menatap gw kalem dari balik kacamatanya.

"Jadi gini loh. Kadang, kita ngerasa kita sudah melukis kehidupan kita dengan begitu indah. Tapi tiba-tiba aja Tuhan 'merusak' lukisan kita. Kita kecewa, tapi kita pasti akan mulai melukis lagi lukisan lainnya yg hasilnya pasti akan lebih baik dari lukisan sebelumnya," gw sedikit ngawur. "Percaya deh, Tuhan 'merusak' lukisan kita karena Tuhan tau ada 'lukisan' lain yg lebih indah yg bisa kita buat..."

Lisa terdiam. Gw juga diam. Sama-sama menatap kosong ke cangkir di depan kami. Lisa tampak mencerna cerita gw tadi. Dia mengangguk pelan.

"Oke. Jadi intinya jangan pernah berhenti berdoa sampe kita berhasil membuat guratan indah lukisan kita.." katanya pelan lalu tersenyum.



Novel Sepasang Kaos Kaki Hitam Adalah Novel Karya Ariadi Ginting a.k.a Pujangga.Lama.
Share This :

Artikel terkait : Novel Sepasang Kaos Kaki Hitam Bagian 18

Posting Lebih Baru Posting Lama

0 komentar: