Novel Sepasang Kaos Kaki Hitam Bagian 8


Novel Sepasang Kaos Kaki Hitam Bagian 8
Akhirnya kontrak magang gw berakhir dan kini gw berganti status jadi karyawan tetap. Nggak ada perbedaan mencolok memang, tapi sekarang gw mulai memikirkan untuk membangun kehidupan gw di kota ini. Keluarga di rumah menyambut kabar baik ini dengan antusias. Mereka, terutama nyokap, meminta gw pulang sekedar bertemu dan sedikit syukuran. Gw belum tau pasti bisa atau nggak nya, karna terkait jarak yg nggak memungkinkan gw mudik memanfaatkan weekend yg cuma 2 hari. Maka gw sudah memutuskan mengambil cuti pada akhir tahun nanti. Gw juga sudah kangen karena lebaran kemarin gw nggak mudik.

Dan nggak kerasa perkembangan karir masing-masing penghuni kosan atas juga berkembang pesat. Indra sudah jadi foreman muda yg potensial. Baru tiga bulan menempati posisi itu dia mulai dipertimbangkan untuk merangsek naik ke supervisor. Keren! Kadang gw pengen seperti dia yg karirnya begitu cepat naik.

Dan Meva, dia tetap jadi mahasiswi yg rajin. Sejak terakhir dia menusukkan jarum ke tangan, dia nggak pernah lagi melakukan hal-hal ekstrem. Yah minimal gw nggak pernah memergoki dia melakukannya. Entah kalau di belakang gw seperti apa. Tapi gw nggak melihat ada balutan perban di bagian tubuhnya, tanda dia nampaknya memang nggak melakukan lagi kebiasaan anehnya.

Dan satu malam menjelang penghujung Desember...

Gw sedang membenahi pakaian yg akan gw bawa untuk pulang kampung besok ketika pintu kamar terbuka dan masuklah Meva dengan senyum tipis seperti biasanya.

"Lo jadi balik besok?" tanyanya.

Gw menoleh sebentar lalu mengangguk. Gw masih berkutat dengan beberapa lembar pakaian di tangan gw.

"Ini oleh-oleh buat keluarga di rumah ya?" Meva menunjuk dua kardus kecil.

"Iya," jawab gw pendek.

Meva berjalan dan duduk di dekat gw. Dia menatap gw seperti ada yg mau dibicarakan.

"Enak ya kayaknya mudik?" kata dia.

"Emang lo ngga pernah mudik gitu Va?" tanya gw.

"Sampe sekarang sih belum."

"Ya udah atuh balik.. Indra juga mau balik katanya pas tahun baru. Lo bakal sendirian lho."

Meva tersenyum lagi.

"Gw udah biasa sendirian," katanya pelan. "Dan mungkin memang takdir gw buat selalu sendiri."

"Emh..maaf. Gw nggak bermaksud bikin lo ngerasa gitu. Gw cuma..."

"Enggak papa nyantai aja lagi. Gw bukan orang yg mudah tersinggung."

"Iya tapi lo satu-satunya orang yg mudah banget ngasih tamparan ke gw."

Dia tertawa.

"Enggak ah, baru juga sekali!"

"Oiya? Kok kalo gw liat dari hasil rekap punya pipi gw, hasilnya beda? Seenggaknya udah tiga kali gw merasakan belaian lembut tangan lo."

Meva nyengir. Dia mengusapi pipi gw tapi buru-buru gw tepis. Gw takut tiba-tiba belaiannya berubah jadi tamparan keras yg bikin gigi gw rontok.

"Emang gw se mengerikan itu ya?" katanya.

"Enggak kok gw cuma waspada aja," tandas gw yakin.

Gw sudah selesai mengepaki tas dan menaruhnya di samping tumpukan kardus oleh-oleh.

"Sip. Beres," gumam gw setelah mengecek lagi persiapan balik besok.

"Ri, berapa hari lo mudik?" tanya Meva.

"Emmh..sampe tanggal 2 bulan depan. Sekitar seminggu lah."

"Lama donk? Gw ngga ada lawan maen catur deh."

"Seminggu doank kok."

Meva menyandarkan punggung ke dinding kamar. Dia menarik nafas berat dan mengembuskannya pelan.

"Lo kenapa Va?" tanya gw. "Kayaknya malem ini mood lo jelek?"

Meva menggeleng.

"Enggak juga," jawabnya. "Gw cuma sedih."

"Sama aja dodol! Emang sedih napa? Kesepian ya ditinggal sama gw?"

Meva tertawa kecil.

"Itu cuma salahsatunya aja."

Gantian gw yg tertawa.

"Lo pasti udah jatuh cinta sama gw ya?" goda gw.

Meva nyengir lebar. Kedua pipinya bersemu merah.

"Enggak ah. Gw takut patah hati kalo jatuh cinta sama lo."

"Kenapa takut? Gw nggak bakal nolak lo kok," ujar gw. "Kalo lo jadi cewek gw, minimal tiap hari gw akan dapet makan gratis."

"Kurang ajar! Cowo matre ya lo ternyata.." dia memukul bahu gw.

Gw tertawa.

"Emang kenapa sih lo sedih?" tanya gw lagi.

"Besok malem Natal, Ri."

Gw kernyitkan dahi.

"Kenapa mesti sedih? Bukannya lo seneng ya?"

Meva menggeleng.

"Ini Natal ke tujuh yg harus gw lalui tanpa ada seorangpun di samping gw."

"Hah? Kok bisa gitu??"

"Terlalu rumit buat gw ceritakan."

"Oke, lo nggak perlu cerita sekarang. Tapi gw akan dengan senang hati denger cerita lo nanti. Kapanpun lo mau cerita."

Meva tersenyum untuk kesekian kalinya.

"Thanks Ri."

Gw mengangguk.

"No problem."

Gw menggeliat malas lalu rebahkan badan di kasur.

"Va," panggil gw. "Boleh gw minta sesuatu?"

"Iya?"

Gw menepuk kasur di sebelah gw.

"Malem ini lo tidur di sini ya?" kata gw. "Temenin gw malem ini."

Sejenak Meva diam.

"Lo nggak ada niat buruk ke gw kan?" tanyanya ragu.

"Lo boleh nolak kalo memang nggak mau."

Meva tersenyum lebar.

"Lo pasti udah tau jawaban gw," katanya.

"Lo mau kan?"

Meva tersenyum lagi.

"Lo emang ngerti banget gw Ri."

"Jadi?"

"Gw E-N-G-G-A-K M-A-U!!"

Dia mencibir lalu bergegas keluar dan membanting pintu meninggalkan gw sendirian di dalam kamar.

Gw langkahkan kaki menaiki tangga dengan malas. Hari ini kecewa banget gw gagal mudik gara-gara jadwal penerbangan di delay sampe besok siang jam 10 karena ada trouble di mesin. Maskapai yg bersangkutan memang mengembalikan ongkos tiket sebagai bentuk tanggungjawab dan artinya besok gw bisa pulang gratis, tapi tetep aja gw kecewa karna gw pikir malam ini gw udah bisa kumpul bareng orangtua di rumah.

Saat itu sudah hampir jam duabelas malam. Beberapa penghuni lantai 1 dan 2 masih asyik ngobrol di luar kamar dan memutar lagu-lagu ballade. Sementara di lantai 3, karena penghuninya memang lebih sedikit, sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Pintu kamar Indra terkunci. Sepertinya dia lagi keluar.

Gw raih gagang pintu kamar gw. Terkunci. Gw rogoh kantong celana, tadi pagi gw yakin gw taroh di situ. Tapi nggak ada! Gw cek lagi di kantong kemeja dan dompet, tetep nggak ada!

"Jangan-jangan..." otak gw mulai menerka dan mengingat dengan keras. "Di dalam tas. Kuncinya ada di tas, gw inget sekarang. Tapi tasnya kan udah masuk bagasi??"

O my god! Kok gw bisa se teledor itu ya? Malem ini gw tidur dimana? Hp gw low battery dan charger gw juga ada di dalam tas...

Lalu gw inget Meva. Masa sih dalam keadaan darurat gini dia ngga mau nolong gw? Maka gw berjalan menuju kamarnya. Pintunya sedikit terbuka, memberi celah pada cahaya kuning dari dalam untuk terbersit keluar. Tadinya gw pikir cahaya kuning itu dari bohlam tua di kamar itu, tapi ternyata itu adalah nyala lilin.

Gw buka sedikit pintunya untuk gw melihat kedaan di dalam. Tiga buah lilin menyala dipasang berderet di atas lemari kayu kecil yg merapat ke dinding. Di atasnya, terpaku sebuah kalung yg sudah gw kenal. Kalung salib polos yg biasa dipakai Meva, saat itu digantung di dinding. Sementara Meva sendiri berdiri berlutut sambil mengatupkan jemari tangannya menghadap kalung itu. Dan nggak butuh waktu lama buat gw sadar bahwa ini seharusnya adalah malam yg spesial untuknya.

Ini malam Natal...

Meva sedang memanjatkan beberapa kalimat pengharapan. Api lilin di atasnya sedikit bergoyang tertiup angin yg menerobos masuk lewat celah pintu yg terbuka. Ditambah sayup-sayup instrument Kenny G dari bawah, membuat malam yg hening itu terasa hangat. Gw nggak terlalu memperhatikan doa apa yg sedang diucapkan Meva. Tapi Meva mengucapkan kalimat demi kalimat itu dengan sangat tulus. Gw bisa merasakannya.

Dan tentu sangat nggak etis kalau gw mengganggunya. Maka gw putuskan menutup pintu dan menunggu di luar sampai dia selesai. Baru saja gw hendak menutup pintu ketika sebuah kalimat yg diucapkan Meva menarik perhatian gw.

"Tuhan..." ucapnya. "Seandainya Engkau mengasihiku, dan aku percaya itu, kirimkan malaikat dari langitMu untuk menemaniku malam ini..."

Gw terdiam. Ternyata Meva benar-benar merasa kesepian. Selama ini gw nggak pernah tahu apa yg terjadi antara dia dan keluarganya, karena gw yakin seorang anak akan benar-benar merasa sepi kalau hubungan dia dengan orangtuanya nggak harmonis. Atau karena orangtuanya sudah meninggal? Tapi gw lebih prefer dengan kemungkinan pertama, karena Meva pernah cerita waktu dia dapet kiriman uang dari nyokapnya.

Akhirnya gw biarkan pintu itu tetap menyisakan celah terbuka. Dan gw duduk menunggu di depan pintu. Gw masih terenyuh dengan kalimat Meva tadi. Gw bisa merasakan kesedihan yg mendalam di tiap kalimat yg diucapkannya. Ah, ternyata gw belum cukup mengenal Meva untuk tahu lebih dalam yg terjadi padanya.

Dan setelah lama menunggu, akhirnya terdengar derit pintu yg ditarik terbuka.

"Ari?" panggil Meva.

Bergegas gw berdiri dan balikkan badan menghadapnya.

"Hay Va," gw tersenyum lebar.

"Kok loe masih di sini?" tanyanya.

Lalu gw ceritakan tentang penerbangan yg delay sampe besok.

"Eh iya, gw lupa kunci kamer gw ada di dalem tas yg udah masuk bagasi," lanjut gw. "Jadi malem ini gw mau numpang di kamer lo, kalo boleh?"

Meva tampak berpikir.

"Pagi-pagi gw pergi kok, karena pesawatnya terbang jam sepuluh. Gw udah harus ada di sana jam sembilan biar aman."

Meva tersenyum.

"Kamer gw selalu terbuka buat elo kok," ucapnya.

"Makasih Va, lo malaikat penolong gw malem ini," kata gw girang.

Meva menggelengkan kepala.

"Enggak Ri. Justru loe lah malaikat itu. Malaikat yg dikirim Tuhan buat nemenin gw..."

Kami berdua tertawa. Lalu kami duduk-duduk di kamarnya ngobrol ringan sampai lewat larut malam dan pada akhirnya, ini untuk kedua kalinya gw dan Meva berada bersebelahan melewati malam yg dingin. Dan jujur, samasekali nggak terlintas di otak gw untuk memanfaatkan situasi ini demi gejolak yg kadang muncul dalam diri gw.

Terlalu jahat buat gw, bahkan untuk sekedar menyentuh pipinya yg merona. Gw biarkan ini apa adanya. Saat mata gw terpejam, sayup-sayup gw mendengar sebuah suara berbisik di telinga gw.

"Thanks ya Ri.. Ini malem Natal terindah buat gw...."

Entah ini fantasi gw atau bukan, tapi seperti ada yg mencium kening gw. Hangat dan basah...

Lalu sunyi...

Dan akhirnya ini membuat gw tetap terjaga sampai pagi.........

Gw sudah berkali-kali ganti posisi tidur. Telungkup, telentang, dan miring ke kiri. Gw nggak berani miring ke kanan coz Meva ada di situ, entah kenapa gw yakin dia belum tidur. Gw bisa merasakan tatapannya meski mata gw terpejam. Ciumannya di kening gw tadi ternyata berefek menghilangkan kantuk yg sempat menyergap.

Dan entah sudah berapa lama saat gw benar-benar terbangun dan duduk di tepi kasur. Sepertinya sudah jam 3 pagi. Di luar hujan sudah mulai turun membuat malam semakin dingin.

"Lo belum tidur Ri?" suara Meva terdengar lembut.

Gw menoleh ke arahnya. Dia menopang kepala dengan satu tangan. Shit! Posenya...

"Engga tau nih mendadak panas," gw sekenanya.

"Kok bisa? Ini kan lagi ujan? Gw malah kedinginan."

"Emh..iya juga sih. Sekarang dingin," jawab gw dengan bodohnya.

"Lo aneh Ri." Meva bangun dan duduk di sebelah gw. "Mau gw bikinin teh anget?"

Gw menggeleng.

"Enggak usah repot-repot deh," kata gw. "Gulanya jangan banyak-banyak ya."

"Yeeey...kirain nggak mau," cibir Meva. "Ya udah gw nyalain dulu dispensernya."

Lalu Meva pun beranjak menyalakan dispenser, menyiapkan gelas kecil, menuangkan beberapa sendok gula ke dalam gelas dan menaruh selembar teh celup di sampingnya.

"Ini kamer kenapa sih gelap gini? Lampunya mati apa emang sengaja pake lilin?" tanya gw.

"Sejak kemaren lampunya mati. Gw belum sempet beli. Lagian biar lebih ngena aja kesan Natal nya."

Gw tersenyum.

"Lo selalu sendiri ya kalo malem Natal?" gw beranikan diri bertanya.

"Yah seenggaknya setelah gw dateng ke Indo."

"Oh...emang lo bukan asli sini ya?"

"Enggak juga. Nyokap gw asli Padang kok. Cuma gw waktu kecil emang sempet tinggal di desa kecil di pinggiran Hampshire selama sekitar 10 tahun."

"Hampshire? Inggris maksudnya?"

Meva mengangguk.

"Iya. Dulu nyokap gw kuliah di London dan akhirnya married sama salahsatu penduduk sana yg akhirnya jadi bokap gw. Setelah balik ke sini gw tinggal sama nenek di Jakarta."

Gw mengangguk.

"Terus? Nyokap lo kemana?"

Meva terdiam dan melamun. Seperti ada sesuatu yg tertahan dalam dirinya. Sesuatu yg enggan dia utarakan. Gw mengerti itu, dan gw mulai memikirkan pengalih pembicaraan.

"Va, itu airnya udah panas kayaknya," gw menunjuk lampu kecil warna hijau yg menyala pada dispenser.

"Oh..sorry," dia segera mencabut kabel dispenser dan menuangkan air ke dalam gelas lalu mengaduknya.

"Sorry Va..gw ngga ada maksud ngingetin lo ke kenangan yg nggak mau lo inget," kata gw saat menerima gelas dari Meva.

"Enggak kok. Gw nggak ngerasa gitu.." gw tau dia berusaha menutupi perasaannya, tapi gw masih bisa ngebaca itu dari raut wajahnya.

"Emh..lo nggak bikin teh juga?"

"Enggak ah, lagi nggak begitu pengen. Minta aja ya dari lo?"

"Boleh. Nih?"

"Nanti aja kalo udah ademan."

Gw aduk-aduk lagi teh panas di gelas biar cepet hangat.

"Taun ini kita sama Va, lebaran kemaren aja gw nggak sempet balik kumpul sama keluarga. Malah elo kan yg nemenin gw? Kita malah maen catur seharian, lo inget?"

Meva tertawa kecil.

"Iya gw inget. Berarti sekarang kita gantian ya?"

Gw mengangguk. Mencoba meminum teh tapi ternyata masih panas. Gw berjengit.

"Panas ya? Sini gw tiupin," Meva mengambil gelas lalu mengaduk dan meniupnya pelan.

"Eh, lilinnya pada mati tuh. Tinggal satu yg nyala," kata gw menunjuk lilin di atas lemari. Nampaknya lilin terakhir juga hampir padam. Cahayanya bergoyang-goyang tertiup angin. "Pantesan daritadi gelap banget."

Meva tersenyum lagi. Aneh banget, nih cewek demen banget senyum ke gw!!

"Dua lilin yg padam itu adalah lilin cinta dan perdamaian," katanya. "Rasanya dua lilin itu udah nggak sanggup lagi memberi terang di hidup gw."

Gw kernyitkan dahi.

"Kan masih ada satu lagi?" kata gw.

"Ya," jawab Meva. "Dengan lilin itu gw masih punya kesempatan menyalakan kembali dua lilin yg sudah mati. Lilin terakhir itu adalah lilin harapan. Gw ingin sekali punya harapan di hidup gw, sekecil apapun itu."

Gw diam sejenak.

"Lo pasti bisa Va. Gw yakin lo mampu berubah dari pion kecil jadi menteri, suatu hari nanti."

"Hmm..." dia tersenyum. "Lo bener-bener seperti lilin terakhir itu Ri. Lo selalu bisa ngasih gw harapan, yg bahkan gw sendiri nggak yakin gw punya itu."

"Semua orang punya harapan kok, termasuk lo Va. Semangat yah! Cepet lulus kuliah terus penuhi semua mimpi lo selama ini!"

Dia menatap gw penuh harap.

"Gw pasti bisa. Lo percaya gw kan Ri?" tanyanya.

Gw mengangguk mantap.

"Gw selalu percaya lo." Gw meyakinkannya.

"Thanks Ri."

Meva menyerahkan gelas teh ke gw. Sekarang teh nya sudah hangat.

"By the way nanti pagi lo berangkat jam berapa?" tanya Meva.

"Jam enam kayaknya. Pesawatnya take off jam sepuluh."

"Ya udah buruan tidur, ntar kesiangan lho. Udah mau jam empat, masih ada waktu buat tidur."

Gw mengangguk.

"Gw duluan tidur yah?" Meva beranjak ke kasur dan segera bersembunyi di balik selimut.

Gw cuma bisa menatapnya dari luar. Ah, Meva...

Asal lo tau, gw bukan cuma percaya sama lo. Lebih dari yg gw ungkapkan, gw selalu yakin lo adalah lilin harapan buat gw.
Gimanapun cara yg udah gw lakukan, gw tetep nggak bisa tidur. Guling-gulingan, nutupin mata pake bantal, dan banyak cara lagi yg gw lakukan tapi mata gw enggan terlelap. Dan HP gw sudah nyaris benar-benar mokad ketika gw lihat jam nya menunjukkan pukul setengah lima pagi.

Gw putuskan mandi, menyeduh teh anget manis lalu duduk di tembok balkon sambil menunggu waktu berangkat. Meva akan gw bangunkan beberapa saat sebelum gw pergi, karena gw nggak mau ganggu tidurnya. Dia nampak nyenyak dalam kamar yg masih berpencahayaan satu lilin.

Emh, pagi ini gw akan melakukan perjalanan balik ke kampung halaman. Ini pertama kalinya gw mudik, karna sebelum ini gw memang nggak pernah merantau. Ternyata menyenangkan sekali bisa berada di momen menunggu kepulangan seperti ini. Gw juga kangen banget dengan keluarga di rumah. Kedua orangtua gw dan adik gw, rasanya pengen buru-buru ketemu mereka. Mata yg pedih dan kepala yg nggak karuan rasa gara-gara insomnia semalam seolah bisa tertutupi oleh kebahagiaan ini.

"Lo udah bangun Ri?" suara Meva menyadarkan gw dari lamunan tentang keadaan kampung halaman gw setelah gw tinggal satu tahun.

Meva sedang mengucek-ngucek mata di depan pintu kamarnya.

"Gw memang nggak sempet tidur Va," kata gw.

"Kenapa?" dia berjalan menghampiri gw.

Ah, bahkan dalam keadaan kusut baru bangun tidur seperti ini pun Meva tampak anggun.

"Gw nggak ngantuk aja Va. Tapi nanti bisa tidur kok di bus ama di pesawat."

Meva diam. Pandangan matanya masih sayu.

"Emh..lo beneran bakal balik hari ini?" tanyanya tanpa menatap gw. Kedua matanya menatap kosong hamparan sawah di depan. Entah kenapa waktu berjalan lambat pagi ini.

"Kan emang udah jadwalnya gitu? Jam enam nanti, gw udah harus di terminal."

"Jadi loe akan ninggalin gw hari ini??" Meva menolehkan kepalanya perlahan, dan kini memandang gw penuh harap.

"Kok ngomong gitu? Gw cuma beberapa hari doank kok. Tahun baru juga udah ada di sini lagi."

"Tetep aja artinya lo ninggalin gw.."

"Enggak Va...gw nggak ninggalin lo.."

"Lo ninggalin gw!!!" Meva setengah berteriak mengatakannya. Suaranya melengking dan parau. "Lo jahat!! Lo ninggalin gw!!!"

Lalu dia mulai memukul-mukul tubuh gw dengan kedua tangannya. Gw sadar saat itu dia lagi nggak becanda. Gelas teh yg tersenggol gerakan tangannya jatuh dan pecah berkeping-keping tiga lantai di bawah. Sambil meneriakkan kalimat yg tadi Meva terus memukul gw dengan brutal. Nggak begitu besar memang power nya, tapi gw yakin kalau gw lengah gw bisa bernasib sama dengan gelas tadi.

Gw langsung melompat dan menjejakkan kaki di atas keramik kuning sambil berusaha menepis kedua tangan Meva yg bergerak memburu. Gw panik dan bingung dengan perubahan sikapnya yg tiba-tiba ini.

"Lo ninggalin gw!!" begitu teriaknya berulang-ulang diselingi isak tangis yg memilukan.

"Denger gw dulu Vaa..." masih berusaha menghalau tanpa menyerang balik.

"Apa yg harus gw dengerin!!! Lo jahat Ri!! Lo jahat!!!!"

Sebuah pukulan mendarat telak di wajah gw. Gw nggak menghindar. Yg gw lakukan adalah mencari celah saat kedua tangannya berayun dan saat itulah gw bergerak memeluknya. Ini salah satu cara untuk menghilangkan kesempatannya memukul gw karena jarak pukul yg lenyap. Kedua tangannya cuma bisa memukul punggung gw pelan.

"Gw nggak kemana-mana Va..." bisik gw di telinganya. "Gw ada di sini buat elo. Gw tetep di sini. Okay?"

Pukulan di punggung gw makin melemah hingga akhirnya benar-benar berhenti.

"Dengerin gw, gw nggak akan ninggalin lo. Gw tetep di sini," gw memberikan sugesti yg meyakinkannya.

Meva sudah berhenti berteriak. Kini berganti dengan suara isakannya yg dalam. Gw bisa merasakan airmatanya membasahi bahu kiri gw. Masih sedikit bergerak memberontak, gw memeluknya makin erat.

"Lo tenang aja, gw akan nemenin lo......" gw seperti seorang ayah yg menenangkan anaknya yg menangis minta jajan.

Meva makin jadi menangis. Kedua bahunya bergetar mengguncang tubuh gw. Suara isak nya menelisik ke dalam telinga gw.

"Gw nggak kemana-mana Va..." gw usapi punggungnya sambil gw belai rambutnya yg panjang.

Selama beberapa saat itu terus terjadi. Meva belum mau bicara. Dia masih larut dalam tangisnya. Mau nggak mau gw juga terenyuh. Gw memang belum terlalu hebat buat benar-benar merasakan kesedihannya, tapi minimal gw tau apa yg dirasakannya saat ini. Gw mengerti kenapa reaksinya tadi begitu frontal.

"Maafin gw R..i...i......." ucap Meva tertahan. Entah sudah berapa lama dia menangis.

"Enggak papa," jawab gw. "Harusnya gw yg minta maaf. Gw nggak akan kemana-mana. Gw janji hari ini gw akan nemenin Natal loe. Boleh?"

Meva menganggukkan kepala.

"Boleh banget," katanya masih diiringi tangisan yg dalam.

"Udah..jangan nangis lagi yaa....kan gw ada di sini? Hari ini akan jadi Natal istimewa buat loe....."

"Makasih Ri......."

"...................."

Meva merangkulkan kedua tangannya di punggung gw. Masih sedikit terisak, dia menyandarkan kepalanya di leher gw. Kami terdiam dalam pelukan.

Hemmmpph..ini momen Natal yg nggak akan gw lupakan....

"Gimana Ri, udah beres?" tanya Meva begitu gw selesai menelepon.

"Udah. Mereka akhirnya setuju gw ambil penerbangan besok," kata gw duduk di sebelahnya.

"Nah, barang-barang lo gimana? Kan udah masuk bagasi?"

"Nggak papa. Barang gw ikut sama pesawat yg terbang sekarang. Ntar besok gw ambil langsung begitu sampe di bandara."

Meva menatap gw simpati.

"Maaf ya gara-gara gw..."

"Ssst..udah ngga usah dibahas. Emang gw nya yg mau kok. Lagipula skali-kali nemenin lo di hari spesial lo boleh lah. Tapi sorry yah gw cuma bisa hari ini aja, gw udah janji sama keluarga di rumah soalnya."

Meva nyengir senang.

"Enggak papa kok, itu udah lebih dari cukup. Udah enam tahun ini gw selalu merasa tiap Natal cuma jadi hari biasa yg akan berlalu seperti biasanya. Tapi hari ini jadi hari istimewa lagi..." dia menatap gw malu. "Emh, bukan Natal nya yg bikin istimewa. Tapi loe yg bikin 'hari biasa' ini jadi istimewa."

Gw tertawa pelan.

"Ya udah sekarang lo siap-siap gieh," kata gw.

"Oke," tangan kanan Meva diangkat membentuk gesture hormat pada upacara bendera lalu bergegas masuk kamar.

Kelihatannya dia gembira sekali. Sore ini gw setuju untuk menemani Meva ke salahsatu gereja di Peseurjaya, kalo ngga salah. Dia akan mengikuti apa ya namanya...misa Natal? CMIIW Dan dia sedang bersiap-siap untuk itu.

Huft..gw gagal mudik lagi hari ini. Entah kadang gw ngga habis pikir, kok gw mau ya menukar waktu gw ketemu keluarga dengan nemenin cewe berkaos kaki hitam itu? Ah, udahlah. Gw yakin Meva akan melakukan sesuatu yg bodoh kalo hari ini tetap dilaluinya seperti tahun-tahun yg lalu. Seenggaknya gw sudah mencegah hal itu terjadi.

Sepuluh menit kemudian Meva sudah selesai dan kami pun berangkat menuju tempat yg disepakati. Sampai di sana Meva masuk sementara gw cukup duduk menunggu di warung kecil seberang gereja. Sambil ngemil gw sms an sama Indra. Dari sms nya gw tau ternyata Indra lagi asyik menghabiskan libur pendek ini bareng ceweknya di Dufan.

Cukup lama gw menunggu. Meva baru muncul ketika matahari sudah benar-benar lenyap dan hari berganti malam. Waktu itu sekitar jam tujuh.

"Maaf ya..lama nunggunya.." kata Meva.

"No problem. Gw seneng kok bisa nemenin lo."

Meva tersenyum lebar.

"Lo baik banget Ri," ucapnya.

"Oiya? Wah kalo gitu gw nemenin lo terus deh biar dibilang baik. Hehehe.."

Suara tawa Meva yg renyah merayap masuk ke telinga gw.

"Balik sekarang?" tanya gw.

Meva berpikir sebentar.

"Gimana kalo jalan-jalan aja dulu?" usulnya.

"Kemana?"

"Ke tempat yg waktu itu...Karang Pawitan. Gimana?"

"Boleh juga.." Yah gw pikir boleh lah untuk sedikit merefresh pikiran. Sebenernya gw ngantuk banget, tadi siang juga cuma bisa tidur dua jam. Entah kenapa hari ini insomnia akrab banget sama gw.

Dan dengan mata yg nyaris redup gw dan Meva sampai di alun-alun Karang Pawitan. Duduk di salahsatu bangku semen di bawah beringin besar, dari sini terlihat keramaian para pengunjung. Kebanyakan mereka sama seperti gw dan Meva, duduk-duduk ngobrol menikmati malam yg cerah sambil ngemil atau melihat koleksi binatang di kandang yg jumlahnya nggak mencapai angka sepuluh.

"Nih," Meva menyodorkan kaleng minuman bersoda buat gw.

Lumayan lah minuman ini bikin mata gw sedikit terbuka. Seenggaknya buat sepuluh menit pertama, gw masih bisa melihat sekitar gw dengan jelas. Selanjutnya gw kembali bertarung melawan kantuk yg menyergap.

"Lo ngantuk Ri? Gw ajak ngobrol diem aja," suara Meva mengejutkan gw.

"Eh, ng... Enggak kok. Di sini adem soalnya, jadi kebawa suasana. Pengennya tidur aja."

"Kalo pengen tidur ya udah kita balik aja yukk?"

"Bentar deh, kita di sini aja dulu. Baru dateng masa langsung pergi?" Bukan apa-apa, gw merasa bahkan buat jalan pun gw udah sempoyongan.

"Lo laper nggak? Kita makan yukk? Gw yg traktir deh."

"Makasih, tapi gw belum laperr... Mending beli minuman kayak tadi lagi deh," kata gw dengan mata setengah terpejam. Mana bisa gw makan sambil mimpi?? Ah, kalo bisa...gw pengen tidur sekarang juga...

Meva sudah kembali abis beli dua minuman kaleng. Langsung gw tenggak habis. Sensasi asamnya berhasil sedikit membuka lagi mata gw.

Gw liat Meva lagi asyik memandang langit.

"Lagi liatin apaan lo Va?" tanya gw. Sial, minuman tadi cuma bereaksi satu menit.

"Bintang," jawabnya singkat.

"Bukannya itu matahari ya?"

"Haha.. Lo lucu deh, ngelawak aja. Jelas-jelas ini malem, nggak mungkin ada matahari."

Gw bukan ngelawak, tadi tuh salah ngomong. Saking ngantuknya..

"Va, gw boleh tiduran nggak?" akhirnya gw nyerah.

"Lo ngantuk? Ya udh tiduran aja, sini.." dia dengan halusnya menyandarkan kepala gw di pahanya.

Ah, akhirnya tiduran jg gw! Kayaknya udah berjam-jam tadi berdiri. Meva mengusap-usap rambut gw pelan sambil bicara, entah apa yg dibicarakan, gw nggak denger gara-gara ngantuk.

Satu yg pasti, gw sangat menikmati momen ini... Ah, seandainya ini terjadi tiap hari.....hehehe, maunya

Dan entah sudah berapa lama sampai akhirnya gw bener-bener menyerah dan akhirnya tertidur di pangkuannya...


Next Novel Sepasang Kaos Kaki Bag 9
Novel Sepasang Kaos Kaki Hitam Adalah Novel Karya Ariadi Ginting a.k.a Pujangga.Lama.  
Share This :

Artikel terkait : Novel Sepasang Kaos Kaki Hitam Bagian 8

Posting Lebih Baru Posting Lama

0 komentar: