Novel Sepasang Kaos Kaki Hitam Bagian 27 Bagian Terakhir (Epilog )


Novel Sepasang Kaos Kaki Hitam Bagian 27 Bagian Terakhir (Epilog )

Suatu sore yg cerah di pertengahan November 2008..

Gw dan dua rekan kerja gw baru saja selesai meeting di sebuah gedung stasiun televisi swasta di kawasan Kapten Tendean Jakarta, dalam sebuah merger sponsor untuk event ulang tahun stasiun televisi itu pertengahan bulan depan. Stasiun televisi berlogo mirip belah ketupat itu memilih perusahaan kami sebagai salah satu sponsor untuk event ulangtahun mereka yg ke tujuh sudah sejak enam bulan yg lalu, dan pertemuan hari ini hanya membahas beberapa kesepakatan akhir saja.


Arloji di tangan gw menunjukkan pukul setengah lima sore ketika kami bertiga sampai di area parkir menuju sebuah avanza hitam yg akan membawa kami kembali ke tempat kerja.

“Enaknya kita makan di mana ya?” kata Rinto, ketika kami sampai di mobil kami.

“Di FX aja gimana?” sahut Nila, dia satu-satunya cewek dalam rombongan sore itu. Dia juga yg kelihatan paling lapar.

“Ya gw sih oke aja, gimana Pak?” tanya Rinto ke gw.

“Eh....ng......makan ya? Kenapa nggak di warteg aja?” kata gw becanda. “Kan banyak menunya tuh. Murah lagi...”

Nila dan Rinto tertawa mendengar jawaban gw. Nila membuka pintu samping dan menaruh tas berisi dokumen dan laptop di sebelah ujung kiri kursi. Sementara Rinto mengambil posisi di belakang kemudi dan gw sendiri di sebelahnya. Dalam sekejap gw merasakan sejuknya AC di dalam sini. Sore itu sebenarnya cukup sejuk dan juga tadi gw terus berada di ruang ber AC, tapi nggak tau kenapa gw tetap kepanasan. Deru mesin terdengar halus dan teredam. Rinto sedang warming up mesin.

“Kangen sama jengkol dan kawan-kawan ya boss? Hehehehee...” goda Nila.

“Yah sekalian bernostalgia ke masa kuliah dulu kali,” timpal Rinto. “Saya aja dulu waktu kuliah favorit banget sama masakan rawon depan kosan.”

“Kalo saya nggak sempet tuh ngerasain ngekos. Waktu kuliah gw tinggal sama bokap nyokap gw soalnya,” kata gw. “Baru pas mulai kerja saya ngekos deh.”

Nila menyodorkan tangannya dari belakang, mengajak gw bersalaman.

“Kita sama Pak,” katanya.

“Hahaha...” gw tertawa kecil sambil menjabat tangannya.

“Eh eh, tadi kalian liat nggak ada Pasha Ungu sama Onci nya juga lho. Sayang nggak sempet foto bareng sama mereka,” Nila bercerita dengan sangat antusias. “Waah kayaknya kalo kerja di tempat kayak gini enak yahh bisa sering-sering ketemu artis yah? Pasti menyenangkan sekali.....!”

Gw dan Rinto cuma senyum geli.

“Tiap hari juga kita kan ketemua artis?” kata Rinto.

“Artis? Di mana?” Nila berusaha memahami ucapan Rinto tadi.

“Di kantor lah.”

“Kantor? Emang ada yah artis di tempat kita??” dia masih berusaha mencerna kalimat tadi.

“Ada lah! Si Encek, dia kan mirip sama Cristian Sugiono!” ujar Rinto, dan meledaklah tawa kami di dalam ruang kecil itu.

“Dia bukan mirip sama Tian, Pak.” Kata Nila. “Tapi Tian nya yg mirip sama dia!”

Kami tertawa lagi. Di tempat kerja kami memang ada seorang office boy, yg menurut gw mirip sama salahsatu pelawak srimulat. Kami biasa memanggil dia ‘encek’. Kami memang sering becanda dengan mencari-cari kemiripan teman kerja kami dengan artis, dan hasilnya ya ngaco lah. Kadang beberapa orang disepakati mirip dengan beberapa artis meskipun pada kenyataannya jaaaaauuuuuh banget! Yah itu salahsatu cara kami melepaskan kepenatan di tempat kerja. Menyegarkan pikiran dengan humor selalu menyenangkan.

“Jadi, kita makan di mana nih??” tanya Rinto lagi memastikan. “Jangan sampe kita balik ke kantor kayak orang yg abis diet tiga bulan.”

Rinto dan Nila menatap gw.

“Ya udah terserah kalian aja di mana. Mau di Senayan atau di warteg juga boleh.”

“Gimana kalo di Citos aja??” Nila mengajukan usul.

“Kejauhaaan ituuuu........” timpal Rinto.

“Ya udahlah dimana aja, asal makan.” Akhirnya Nila menyerah.

Gw usap wajah gw beberapa kali. Hari ini cukup melelahkan. Perjalanan balik ke kantor jam segini pasti akan memakan waktu lama mengingat jam segini adalah jam sibuk. Rinto baru saja memasukkan perseneling waktu pandangan mata gw menemukan seseorang di luar sana. Agak jauh dari mobil kami, seorang wanita dengan seragam serba hitam khas stasiun televisi ini, membawa tas jinjing, berjalan menuju sebuah inova silver di sudut parkiran.

“Tunggu,” kata gw tanpa menoleh ke Rinto ataupun Nila di belakang.

“Kenapa Pak?” tanya Rinto.

“Kalian tunggu dulu di sini. Saya mau ke sana sebentar,” gw menunjuk mobil yg dituju wanita itu.

“Ada apa emangnya? Ada yg ketinggalan?” giliran Nila yg mencari tahu.

“Enggak, saya mau ketemu teman lama dulu. Tunggu bentar aja yah..oke?”

Walaupun dengan seribu pertanyaan di otaknya, Rinto mengangguk setuju. Maka bergegas gw lepaskan safety belt yg sempat melingkar di badan gw, membuka pintu, dan segera berjalan cepat menuju wanita di luar itu. Walau dengan degupan jantung yg mungkin mencapai seribu detak per detik nya, gw terus berjalan. Gw bahkan hampir terjatuh karena kaki gw terasa bergetar dan kehilangan keseimbangannya saat berjalan. Wanita itu baru saja sampai di mobilnya dan hendak menaruh tas nya di bagasi, ketika gw sampai di tempatnya berdiri...

Gw mendehem pelan. Dia secara refleks menoleh ke arah gw. Dan saat itulah kedua mata kami bertemu pandang. Dia, menatap gw terkejut. Sama dengan cara gw menatapnya. Selama beberapa detik kami sama-sama terdiam dan bergulat dengan ingatan di otak kami.

“……….”

“Meva………?” ucap gw pelan, setengah percaya dan setengah masih nggak percaya dengan yg gw lihat di hadapan gw.

ID card di dada kirinya menunjukkan jabatan yg dipegangnya sekarang.

“Kamu......................” dia menutup mulutnya dengan jemari tangannya yg lentik dan manis. Dia nampak sangat shock melihat kehadiran gw. Sama, gw juga shock berat!!!!

“Yeah, ini gw..............” kata gw.

Meva tertawa heran.

“Ini Ari, si kebo itu??????” ucapnya menunjuk gw. Dia menatap gw seperti gw ini adalah objek aneh dari luar angkasa yg baru pertama dilihatnya. “Ya Tuhan, mimpi nggak nih!!”

Gw mengangguk.

“Iya va, ini gw...............................” butir airmata menggumpal di pelupuk mata gw, tapi sebisa mungkin gw tahan untuk nggak menetes. Dada gw seperti diaduk-aduk. “Ini gw Ari. Orang yg biasa lo ajak main catur di depan kamer, tujuh tahun yg lalu................”

Gw sudah nggak peduli dengan kusutnya wajah gw saat itu. Gw tau kemeja yg gw pakai juga nampak lecek karena terlalu lama membungkus badan gw seharian ini. Yg gw pedulikan hanya sosok wanita di hadapan gw sekarang. Sosok yg selama bertahun ini hilang dari mata gw, dan hanya tersimpan di kepala bersama ratusan kenangan lainnya. Dia sosok yg sama dengan wanita yg gw lihat pertama di kosan dulu, meski tentu saja, sama seperti gw, dia nampak lebih berumur. Tapi tatapan matanya masih sama. Senyumnya, caranya tertawa, bahkan gesture tubuhnya, gw nggak pernah lupa. Dia adalah Mevally yg gw kenal......

Saat ini, kami berdiri di tempat dan keadaan yg berbeda dari tujuh tahun yg lalu. Dia ada di depan gw, tapi bahkan untuk menyentuh tangannya sekalipun gw nggak memiliki keberanian untuk itu. Yg bisa gw lakukan hanyalah membiarkan otak gw bermain bersama kenangan-kenangan yg selama ini tersimpan rapi dalam ingatan gw. Ini benar-benar terasa sangat aneh. Sangat aneh dan sulit untuk gw jelaskan.

“Lo kemana aja Va?” suara gw tercekat di tenggorokan.

“Emang kamu nyariin aku yah?” katanya. Suaranya bahkan masih sama seperti teriakannya yg dulu sering memecahkan gendang telinga gw. Hanya saja, bahasanya.......yah bahasanya sedikit berubah.

“Aku selalu nyari kamu Va.......” gw berusaha tampak tenang. Kedua bahu gw bergetar hebat.

Meva tersenyum manis. Sangat manis...

“Jujur, aku kaget banget liat kamu ada di sini sekarang. Di depan aku....” kata Meva. Matanya juga mulai berkaca-kaca. “Gimana kabar kamu?”

Ah, bahkan gw lupa dengan pertanyaan yg biasa diajukan kepada orang yg sudah lama nggak gw temui.

“Aku baik,” kata gw. “Dan kamu sendiri gimana?”

“Aku juga baik kok,” jawabnya.

Gw nggak bisa mengelak dari situasi serba kikuk seperti ini. Gimana nggak, dia menghilang dari hidup gw lebih dari empat tahun yg lalu. Dan sekarang...................dia muncul lagi, di hadapan gw. Dia nyata. Berdiri di depan tempat gw berdiri sekarang. Dia bukan sekedar bayangan yg selalu muncul di tiap malam sebelum tidur gw. Dia juga bukan seserpih debu yg mengotori memori di kepala gw. Lebih dari itu, dia Meva! Wanita berkaoskaki hitam yg gw kenal delapan tahun yg lalu...

“Kayaknya lama banget yah kita nggak ketemu,” kata Meva.

“……....”

“Kamu...masih di tempat kerja kamu yg dulu itu?” dia berusaha mencari bahan pembicaraan yg bisa mencairkan kekakuan ini.

“Enggak kok. Aku pindah, setahun setelah kamu wisuda..”

Kami lalu terdiam.

“Dan sekarang, kamu di Jakarta?” tanyanya lagi tetap dengan logat dan intonasinya yg khas.

“Iya. Udah dapet tiga tahun aku di sini. Kamu kerja di sini?”

Meva tersenyum lagi. Lalu anggukkan kepala.

“Kamu sekarang udah sukses ya?” kata gw. “Bukan lagi mahasiswa yg sering ketinggalan tugas.”

Meva menatap ID card nya sesaat lalu tertawa pelan.

“Kalo kesuksesan itu diukur dari materi, mungkin sekarang jawabannya adalah iya,” katanya. “Tapi toh seperti yg dulu kamu selalu bilang ke aku, selalu ada yg lebih baik dari sekedar kesuksesan materi.” Dia tersenyum. “Eh kita cari tempat duduk aja yukk. Nggak enak ngobrol berdiri kayak gini.”

Dia menutup bagasi mobilnya, menekan tombol pengaktif alarm dari kunci di tangannya, lalu berjalan di samping gw. Gw mengikuti dia. Saat itu gw memang sudah melupakan keberadaan dua orang rekan kerja gw di mobil. Tak apalah, kapan lagi gw akan menemui momen seperti ini....

 “Kamu keliatan tua Ri,” kata Meva tertawa kecil. “Plus gemuk lagi. Haha..”

“Oiya?” gw juga tertawa. “Tapi kamu kayaknya awet muda yah?”

Meva tersenyum. Kami duduk di tepi kolam depan pintu utama masuk gedung. Ada sebuah air mancur kecil di tengah kolam, bergemericik pelan mengiringi suasana sore yg teduh. Selama beberapa detik kami terdiam. Gw sedang mencoba mencari bahan pembicaraan.

“Oh iya Lisa, sekarang gimana kabarnya?” tanya Meva. “Dia kan fans berat kamu tuh. Hehehe..”

“Ah, iya Lisa. Gw nggak tau kabarnya sekarang. Kami lost contact sejak dia di Jepang. Dan gw juga pindah sebelum dia balik ke Indonesia…jadi belum sempat ketemu.”

Meva mengangguk paham.

“Gimana sama Indra?” tanyanya lagi.

“Kayaknya tuh anak dilahirkan memang buat jadi orang sukses. Terakhir kami contact pas lebaran kemaren. Katanya dia hampir menyelesaikan study pasca sarjananya dan lagi berjuang buat promosi jabatan di tempat kerjanya. Hebat yaaa dia..”

“Dan kamu sendiri?” Meva menatap gw penuh minat. “Kayaknya sekarang juga kamu nggak beda jauh sama si Gundul..”

“Haha,” gw tertawa pelan. “Entahlah. Gw selalu termotivasi kalo liat keberhasilan yg dicapai si Gundul. Tapi kayaknya gw harus berusaha lebih keras buat bisa mengejarnya.”

Meva tersenyum.

“Eh, terus gimana tuh kosan kita, masih ada apa udah ganti fungsi jadi museum tuh? Lama banget nggak kesana! Yah kali aja sekarang dibangun monumen bersejarah untuk memperingati kita berdua. Hehehe..”

“Setau aku sih masih sama, cuma ada beberapa perbaikan tentunya. Indra sering nelpon gw kalo kebetulan dia lewat kosan kita. Kangen katanya, mau reunian. Tapi yah tau sendiri lah sekarang mah susah banget mau ketemu juga. Sama-sama sibuk,” gw merasakan kerinduan yg menggelitik dalam hati. “Emmh..kamu masih sering maen ke Karang Pawitan?”

“Enggak. Terakhir kali ke sana ya pas sama kamu itu. Abis itu, nggak pernah sekalipun. Apalagi setelah kerja di sini.”

Gw mengangguk pelan. Angin sore yg panas mendadak terasa sejuk.

“Thanks ya Ri...” kata Meva tiba-tiba.

“Untuk apa?” tanya gw.

“Selama kita barengan di kosan dulu, aku banyak belajar dari kamu,” ceritanya. “Hidup aku juga banyak berubah setelah kenal sama kamu.”

Gw tersenyum. Otak gw langsung merewind kejadian-kejadian yg sudah berlalu sekian lama. Hati gw mencelos…..

“Kamu masih inget tentang pion catur yg berubah jadi menteri?” katanya lagi. Gw jawab dengan anggukan kepala. “Menurut kamu, sekarang aku adah bisa dibilang jadi menteri belum?”

“Seperti yg kamu bilang tadi. Kalo ukurannya materi, jelas kamu udah bertransformasi jadi menteri. Bukan hanya menteri, kamu malah jadi ratu, mungkin?”

Meva tertawa kecil.

“Aku selalu pegang kata-kata kamu soal pion catur itu,” ucapnya. Pandangan matanya menerawang jauh melampaui batas ingatannya. “Aku jadiin sebagai salahsatu pedoman hidup aku. Dan hasilnya sekarang...seenggaknya buat diri aku sendiri, aku merasa lebih baik dari dulu. Jauh lebih baik, kalo aku boleh bilang.”

“Aku turut bahagia Va..”

“Thanks Ri. Kamu emang selalu ada saat aku sedih ataupun bahagia.”

“Ya, begitulah aku...” ucap gw lirih. “Oiya, aku mau tau gimana cerita kamu sampe kamu bisa dapet posisi yg sangat baik di sini.?”

Meva tertunduk malu, tertawa kecil dan mengibaskan rambutnya pelan sebelum menjawab.

“Emh...enggak begitu istimewa siih. Waktu itu kebetulan ajah ada temennya Tante Ezza yg punya info lowongan kerja di sini. Aku kirim deh lamaran aku, dan yah syukurlah aku lulus.”

Gw tarik napas panjang.

“Tapi aku sempet frustasi juga lho, tiap inget target aku di diary. Inget kan?” kata Meva.

Gw mengangguk.

“Tapi lo tetep bisa sampe di titik ini, dan itu hebat!” kata gw jujur.

“Haha... aku cuma belajar dari pengalaman.”

“Kamu sekarang udah pinter yah?” komentar gw.

“Haha.. itu juga gara-gara sering gaul sama kamu.”

Sejenak kami terdiam.

“By the way kamu masih inget sama kalung ini?” Meva menarik keluar sebuah kalung tua yg sedikit usang dari balik kerah seragamnya. Sebuah kalung salib dengan selotip hitam di salahsatu sisinya, sama persis dengan yg gw lihat di kamar gw waktu itu. Itu memang kalung yg selalu dia pakai. Kalung warisan dari neneknya.

“Kamu masih pake kalung itu?”

“Selalu,” jawabnya mantap. “Ini salahsatu saksi sejarah hidup aku. Aku akan selalu pake kemanapun dan apapun yg aku lakukan.”

Gw diam. Airmata gw mendadak sulit ditahan.

“Kamu tau Ri?” lanjut Meva lagi. Suaranya terdengar bergetar kali ini. “Kalung ini udah ratusan kali mengalami bongkar pasang selotip, tapi nggak pernah sedikitpun mengurangi makna di baliknya. Sekarang kamu liat deh.....”

Gw angkat kepala, menengok ke arahnya. Dia sedikit membuka gulungan selotip di kalungnya.

“Kamu inget nggak pertama aku pasang selotip ini?” di balik gulungan selotipnya ada gulungan lain yg sangat lusuh. “Ini selotip yg aku pake waktu pertama nyambung kalung ini, selotip yg aku minta dari kamu. Aku nggak pernah ngelepasnya. Cuma aku dobel aja di luarnya, dan itu yg sering aku ganti......”

“Kenapa Va......?” gw sedikit terisak. “Kenapa kamu masih inget dengan jelas semua itu?”

“Emang kamu udah lupa?” dia balik tanya. “Aku selalu inget kok. Samasekali nggak bisa dilupain. Lagian, setiap kali kita pengen ngelupai sesuatu, justru saat itu kita mengingatnya. Iya kan?”

Gw usapi airmata yg makin banyak jatuh.

“Kamu kok sekarang jadi mellow?” Meva berkomentar. “Ini pertama kalinya aku liat kamu nangis.”

Gw gelengkan kepala.

“Aku nangis bukan karena sedih,” gw berusaha menjawab dengan jelas. “Tapi karena bahagia Va. Aku bener-bener bahagia hari ini.”

Meva diam, memberi kesempatan gw berbicara.

“Aku bahagia bisa ketemu kamu. Aku bahagia liat keadaan kamu sekarang, kamu udah nunjukin dan buktiin ke aku apa yg selalu kamu bilang soal ‘pengen jadi menteri’... aku bahagia banget. Dan aku bahagia, karena kamu nggak pernah lupa cerita tentang kita.....”

Dan Meva memeluk gw. Wangi parfumnya semerbak masuk ke rongga paru-paru gw. Parfumnya masih sama dengan yg dulu. Ternyata dia cuma sedikit nampak lain di luar, di dalamnya dia tetap Meva yg sama yg selalu gw kenang selama ini. Gw raih punggungnya dan balas memeluk. Hangat...... Gw tau Meva juga menangis. Kedua bahunya bergetar...

“..................”

Hheeeemmmmppppphhhh...........gw nggak mau cepat-cepat ini berakhir. Gw masih belum mau melepaskan pelukan ini. Sebagian hati gw mulai menyesali kebodohan diri gw di waktu yg lalu.

“Mafin aku Va,” kata gw.

“Maaf buat apa?..”

Gw terdiam. Masih sama seperti dulu, gw speechless.

“Ada yg nggak bisa aku ungkapin ke kamu waktu itu...” gw mencoba ungkapkan. Gw tahu ini satu-satunya waktu yg tepat buat mengatakan ini.

“Apa itu?.....”

Lama kami terdiam. Waktu seperti berhenti berputar. Diam-diam gw berharap waktu memang benar-benar berhenti.

“Aku sayang kamu Vaa......” akhirnya, gw mampu mengatakan itu.

Sebuah kalimat yg selama bertahun ini selalu takut untuk gw ungkapkan. Setelah kepergiannya, gw selalu ingin mengatakan ini. Dan sekarang, akhirnya gw bisa melakukannya.! Meski mungkin sudah terlambat………….

“Itulah alasan kenapa aku ada di sini..”

Gw tertawa pelan.

“Kamu masih suka pake kalimat itu?” gw ingat momen waktu kami ‘lomba ngerayu’ di kamer gw.

“Cuma itu stok aku soalnya...”

Kami tertawa. Melepaskan pelukan, lalu sama-sama usapi airmata di pipi kami.

“Kamu masih inget bintang keberuntungan yg pernah kamu kasih ke aku?” Tanya gw.

Meva sedikit terkejut, lalu tertawa kecil.

“Ohh, kamu masih nyimpen ya?” tanyanya senang.

“Iya donk. Kan dulu kamu minta aku jaga baik-baik bintang itu.”

“………….”

“Ini,” gw mengeluarkan sebuah gantungan kunci dari dompet gw. “Seperti yg pernah kamu bilang dulu, tiap aku kangen sama kamu, aku selalu liat bintang ini. Tapi kamu kok nggak pernah muncul yaaa..?” gw sedikit becanda.

Dan kami pun tertawa.

“Aku pikir kamu udah buang bintang itu.”

“Enggak lah. Buat aku, ini juga salahsatu saksi sejarah. Semua yg pernah kita lalui, terangkum dalam satu bintang ini……”

Gw menunduk lemas. Saat ini rasanya gw benar-benar ingin melompat ke masa lalu. Tapi sebuah suara menyadarkan gw.

Seperti bunyi dering handphone. Dari kantong celana Meva. Dia mengeluarkan handphone nya, yg bahkan jauh lebih mahal dan bermerek dari handphone gw. Di layar nya yg lebar itu tampak foto seorang laki-laki sedang memeluknya.

“Sebentar ya aku jawab dulu,” katanya pelan.

“Halo sayaang,” Meva menjawab telepon. Suaranya sedikit serak.”Iya ini mau balik. Enggak kok, paling jam tujuh an nyampe rumah. Iya iya biar bibi aja dulu yg ngurusin.”

Dan dia mengobrol sekitar dua menit dengan si penelepon sebelum menutup telepon dan memasukkan handphone nya ke saku baju.

“Maaf yah, tadi suami aku....” kata Meva sedikit malu.

Gw mengangguk paham.

“Udah berapa lama?” tanya gw.

“Belum begitu lama. Baru dua tahun kok. Dan udah punya si kecil yg cakep, mirip ayahnya lho..” dia tersenyum senang saat mengatakan ini. “Kalo kamu gimana?”

“Aku udah punya dua, cewek semua.” kata gw. “Malah udah mau tiga aja. Baru empat bulan siih. Doain aja yaah moga lancar-lancar aja.”

“Oiya? Wah aku kalah produktif donk sama istri kamu! Hahaha,,,”

Gw juga tertawa. Betapa hari ini adalah hari yg menakjubkan! Gw bisa tertawa lepas, setelah tadi berkubang dalam tangisan bersama masa lalu. Gw dan Meva ngobrol cukup banyak sore ini. Kami sama-sama mengungkapkan yg selama ini hanya bisa terpendam dalam hati. Dan sekarang, kami dengan lantangnya bertukar cerita tentang keluarga kami masing-masing. Meva menikah dengan seorang lelaki keturunan Belanda yg dikenalnya di gereja. Mereka sama-sama aktif dalam acara yg diadakan organisasi kerohanian di sana. Dari sanalah kemudian mereka memutuskan mengikat hubungan dalam status yg resmi pada Februari 2006 yg lalu. Sementara gw, gw menceritakan wanita yg kini selalu menemani hari-hari gw. Tentang rumah kecil kami di pinggiran Jakarta yg kumuh. Tentang dua buah hati gw yg lucu dan imut, yg kelak akan jadi kebanggaan ayah dan ibunya. Juga tentang impian-impian yg belum sempat tercapai, dan sedang kami tapaki hari-hari ini..

“Coba liat deh,” Meva menunjukkan foto anaknya di handphone nya. “Cakep banget yaaaaa.............. Aku kasih nama Prince Mevally. Bagus nggak namanya?”

“Keren banget tuh,” komentar gw.

“Kalo kamu, nama anak kamu siapa? Eh, kamu beneran keliatan tua banget deh, anak aja udah dua coba!! Hahaha...” Meva ngejek gw.

“Baru juga dua ah! Masih pantes disebut bujangan. Hehehe..” timpal gw. “Anak pertama aku kasih nama Aisyah, dan yg bungsu udah di booking sama ibunya bahkan sebelum dia sendiri hamil, dengan nama Ratu Lanny Fauzaty.”

“Waah...sesuai sama muka mereka yg cantik-cantik yah?” kata Meva sambil melihat foto dua buah hati gw yg gw perlihatkan di handphone.

Ah, dunia ini memang unik. Dulu rasanya tabu untuk membicarakan yg namanya pernikahan dan sekarang, kami malah sudah membicarakan soal anak-anak kami. Benar-benar aneh rasanya! Meskipun sedikit berat, gw sadar semua memang harus berubah seiring waktu yg selalu berlalu…

Kami asyik berbincang dan tanpa sadar matahari sudah terbenam begitu handphone gw bergetar berkali-kali menerima panggilan dari dua rekan kerja gw yg pasti sudah sangat kesal karena ditinggal di parkiran. Meva berdiri, gw juga berdiri. Rasanya ini sudah terlalu malam buat kami terus duduk mengobrol di sini.

“Nomer HP kamu berapa?” tanya Meva sambil menyiapkan handphone nya. “Biar nanti kita bisa ngobrol panjang lebar lagi. Dan siapa tau kita bisa saling berkunjung ke rumah? Iya kan?” dia tersenyum lebar.

Gw menggeleng.

“Kenapa? Kamu nggak mau ngasih nomer kamu ke aku?” tanya Meva.

Sejenak gw diam.

“Aku cuma takut,” kata gw menjelaskan. “Aku takut aku akan meminta lebih dari ini, kalo kita tetap berhubungan dengan leluasa. Aku nggak mau ada yg tersakiti. Aku sangat menghormati kamu dan suami kamu. Aku juga nggak mau ngecewain istri aku. Mungkin akan lebih baik kalo kita biarkan semua berjalan apa adanya...”

Meva tampak kecewa. Dia menutup handphone nya lalu memasukkannya lagi ke kantong celananya.

“Oke, kalo menurut kamu itu lebih baik,” katanya penuh pengertian. “Padahal aku cuma pengen bernostalgia aja sama kamu.” Dia tersenyum lebar.

“Maaf, aku cuma takut...”

Meva mengangguk.

“Enggak papa, aku ngerti kok.” Katanya jujur.

“Kamu tau kenapa tiap kenangan itu terasa indah dan manis?”

Meva kernyitkan dahi lalu menggelengkan kepala.

“Karena dia nggak akan terulang lagi,” jawab gw. “Itu yg bikin kenangan jadi berarti...”

Meva tersenyum dan dia memeluk gw lagi. Saat itulah jauh dalam hati gw sadar, mungkin ini adalah kali terakhir gw memeluk Meva. Maka gw biarkan diri gw menikmati tiap detik yg berlalu, sangat perlahan. Bahkan gw bisa merasakan getaran jantungnya di dada gw. Sampai saatnya kami lepaskan pelukan kami, saat itulah gw sadar bahwa hidup kami sekarang sudah sempurna. Dan kesempurnaan itu jauh lebih sempurna dari sekedar cerita masa lalu. Kami sama-sama sadar bahwa sekarang kami punya tanggungjawab kepada keluarga kami masing-masing. Dan kami harus bisa menjaga kepercayaan yg sudah diemban kepada kami.

Semuanya telah berbeda sekarang. Gw bukan lagi teman kosannya yg dengan leluasa keluar masuk kamarnya. Dan Meva bukan lagi bidak catur yg kecil dan nggak berdaya. Meva sekarang adalah menteri, bagi dirinya, dan seorang istri yg baik bagi suaminya. Tentu saja dia juga ibu yg penuh cinta untuk anaknya. Kalau dilempar lagi ke masa lalu, rasanya nggak pernah terpikirkan akan menemukan cerita semanis ini. Manis dan pahit, yeah tentu saja….

“……….”

“Oiya, sebelum kamu pergi, ada satu hal yg harus kamu tau,,” lanjut Meva.

“Apa itu?”

Meva diam sejenak, mengatur nafas, lalu bicara.

“Berat buat ngomong ini, tapi aku yakin kamu harus tau. Waktu kamu ungkapin perasaan kamu ke aku dulu,” ucapnya. “Sebenernya aku lagi nggak dengerin musik. Lagu di headset aku udah mati waktu kamu ngomong. Jadi….jadi sebenernya aku denger dengan jelas semua yg kamu ungkapkan waktu itu……..”

Gw tertegun. Ingin rasanya melompat kembali ke masa lalu dan mengulang hari itu. Tapi gw sebisa mungkin segera menguasai diri gw.

“Kenapa Va….?”

“Maafin gw Ri………”

“………”

“Bodoh banget yah?! Waktu itu aku bermaksud ngetes kamu,” ucapnya dengan nada menyesal. “Waktu itu aku yakin kalo kamu bener-bener sayang sama aku, kamu pasti bakal nembak aku untuk yg ke dua kalinya. Tapi…….”

“Tapi aku nggak pernah bisa ngungkapin itu…” sambung gw. Sangat sakit mendengar ini. Bukan, bukan karena pengakuan Meva, tapi gw sakit karena ternyata gw samasekali nggak pernah menyadari hal ini. Gw nggak pernah menduganya.

“Tapi,” kata Meva lagi. “Sekarang aku sadar…yg namanya cinta itu nggak melulu harus diungkapkan lewat kata-kata. Ada yg jauh lebih memahami itu……..”

“……….”

“Di sini…………..” Meva menyentuh dada gw. Hangat gw rasakan dari telapak tangannya yg lembut merambat di dada gw. Gw terdiam tanpa bisa menahan airmata di pipi gw. “Kamu mungkin nggak pernah mengungkapkannya Ri, tapi hati kecil aku tau. Semua yg pernah kamu lakukan, semua yg pernah kamu berikan, dan semua yg pernah kamu korbankan buat aku, itu jauh lebih berharga dari sekedar ungkapan cinta……”

Gw raih tangannya dan memeluknya lagi. Kali ini sangat erat. Gw sudah nggak bisa menahan laju airmata yg terus jatuh. Wajah gw sudah sangat basah sekarang. Tapi gw nggak peduli. Karena gw tahu, hari ini, gw mengerti sesuatu. Apapun keadaannya sekarang, kami sama-sama punya satu tempat spesial dalam hati kami. Samasekali nggak bermaksud mengkhianati pasangan kami saat ini, tapi apa yg sudah terjadi di masa yg lalu tentunya nggak bisa begitu saja terabaikan. Dan gw tentunya tau batasan yg ada.

“……….”

“……….”

“Ri…”

“Ya?”

“Sejak aku pergi, berapa kali kamu dengerin lagu Endless Love?” tanya Meva di sela isaknya, masih dalam pelukan gw.

Gw tersenyum sejenak lalu menjawab.

“Selalu,” jawab gw. “Setiap malam menjelang tidur, aku selalu dengerin Endless Love.”

Meva tersenyum. Sedih...

“Kamu tau, kenapa aku suka banget sama Endless Love?”

Gw menggelengkan kepala.

“Pertama kalinya aku denger lagu itu……..waktu aku meluk kamu di halaman rumah aku. Sejak saat itu aku suka banget lagu ini…”

“……….”

“So…” lanjutnya sambil melepas pelukannya. Kami saling pandang. “Lagu apa yg harus aku dengerin, kalo aku kangen kamu?”

Gw balas tersenyum. Menatap awan di langit selama beberapa detik, lalu menjawab.

“Over The Rainbow,” kata gw pelan. “Aku selalu suka sama lagu itu.”

Meva tersenyum lagi lalu usapi airmatanya yg kembali jatuh…

Dan sore itu jadi sore yg nggak pernah terlupakan di hidup gw. Saat semua kerinduan terobati. Saat semua pertanyaan akhirnya terjawab. Saat semua pengakuan akhirnya terungkapkan. Dan saat semua mengerti bahwa ada batasan antara masa lalu dan masa kini. Gw nggak pernah sedikitpun menyesali apa yg sudah terjadi di masa lalu. Tanpa masa lalu, gw nggak akan pernah ada di sini. Dan tanpa Meva, mungkin gw nggak akan pernah jadi gw yg sekarang.

Dan sore itu, dalam kepala gw, seperti mengalun sebuah lagu…….


My love..
There's only you in my life
The only thing that's right

My first love..
You're every breath that I take
You're every step I make

And I
I want to share
All my love with you
No one else will do...

And your eyes
They tell me how much you care
Ooh yes, you will always be
My endless love…

Two hearts,
Two hearts that beat as one
Our lives have just begun
Forever,
I'll hold you close in my arms
I can't resist your charms

Oh, love
I'll be a fool for you
I'm sure
You know I don't mind
Oh, you know I don't mind

'Cause you,
You mean the world to me
Oh..
I know
I've found in you
My endless love

And yes..
You'll be the only one
'Cause no one can deny
This love I have inside
And I'll give it all to you
My love,

My Endless Love………….

"aku tau kamu sayang aku, kamu pun tau aku sayang kamu. kita nggak pernah berhenti buat saling menyayangi. selamanya. kita cuma berhenti nunjukkin sayang itu dalam bentuk nyata. kita ganti dengan bait-bait doa, dan mungkin dalam sujud panjangmu, ada nama aku terselip di dalamnya. terimakasih buat tahun-tahun tak terlupakan kita. terimakasih buat filosofi pion catur. semoga kamu selalu bahagia bersama keluarga kecil kamu di sana Ri. salam."

Gw tersenyum, melipat kertasnya, dan menyelipkan itu ke dalam sebuah buku di samping cangkir teh hangat gw malam ini.


~Selesai~
16 Juli 2011
pujangga.lama a.k.a Ari

Novel Sepasang Kaos Kaki Hitam Adalah Novel Karya Ariadi Ginting a.k.a Pujangga.Lama.
Share This :

Artikel terkait : Novel Sepasang Kaos Kaki Hitam Bagian 27 Bagian Terakhir (Epilog )

Posting Lebih Baru Posting Lama

0 komentar: